Kesalehan di Era Digital: Antara Dakwah dan Pertunjukan Visual

- Senin, 02 Februari 2026 | 18:06 WIB
Kesalehan di Era Digital: Antara Dakwah dan Pertunjukan Visual

Padahal, kalau kita merujuk Al-Qur'an, kesalehan sejati tidak diukur dari yang tampak di permukaan. Ia ada di kedalaman iman dan konsistensi amal. Seperti ditegaskan dalam satu ayat, "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian" (QS. Al-Hujurat: 13).

Pesan normatif ini, dalam konteks budaya populer muslim, sering tereduksi. Kesalehan lebih sibuk ditampilkan ketimbang diinternalisasi. Agama yang mestinya menuntun pada kejujuran dan kerendahan hati, berisiko bergeser jadi sekadar performa visual. Tampak saleh di layar, tapi belum tentu kukuh dalam etika keseharian.

Ironis, bukan? Kita hidup di masa seseorang bisa terlihat sangat saleh di media sosial, tapi gagap saat harus mempraktikkan nilai agama di ruang sosial yang nyata. Ayat dibagikan tiap hari, tapi empati kerap berhenti di kolom komentar. Ceramah tentang keikhlasan jadi viral, sementara debat soal perbedaan berubah jadi ajang saling menyalahkan.

Kesalehan digital kadang mirip etalase toko. Terang, rapi, dan menggoda. Tapi kita jarang bertanya: apa yang benar-benar disimpan di dalamnya? Saat kamera menyala, niat tampak tertata rapi. Saat kamera mati, nilai-nilai itu bisa ikut redup.

Jangan salah paham. Budaya populer muslim bukan musuh dakwah. Ia adalah realitas yang tak terhindarkan. Hanya saja, dakwah perlu menjaga jarak kritis. Jangan sampai larut sepenuhnya dalam logika pasar. Popularitas harusnya jadi sarana, bukan tujuan akhir.

Dakwah yang bermakna bukan cuma yang paling banyak ditonton. Tapi yang mampu membentuk kesadaran, etika sosial, dan kepekaan moral. Tantangan terbesar kita hari ini bukan kekurangan audiens. Melainkan menjaga agar Islam tidak direduksi jadi sekadar konten inspiratif belaka, tanpa ada transformasi sosial yang nyata.

Pada akhirnya, jadi muslim di era digital ini bukan soal seberapa Islami unggahan kita. Tapi sejauh mana nilai-nilai Islam itu hidup dalam perilaku. Baik saat disaksikan banyak orang, maupun saat tak ada satu pun kamera yang merekam.


Halaman:

Komentar