Korupsi dan Tradisi: Saat Gotong Royong Berubah Jadi Jebakan Moral

- Senin, 02 Februari 2026 | 16:50 WIB
Korupsi dan Tradisi: Saat Gotong Royong Berubah Jadi Jebakan Moral

Korupsi: Dilema di Negeri yang Mengaku "Gotong Royong"

Alen Y. Sinaro
Korps Muballigh Jakarta

Korupsi di sini punya dua wajah. Satu tumbuh dari kelaziman, dari adat usang yang tak pernah benar-benar kita periksa ulang. Ia lahir di ruang abu-abu, tempat niat baik pelan-pelan berbelok arah. Tapi ada sisi lain yang jauh lebih berbahaya: korupsi yang muncul dari niat sadar, perhitungan dingin, dan keserakahan yang terstruktur rapi. Ungkapan seperti, "biar gaji kecil, yang penting uang masuknya!" bukan cuma keluhan. Itu adalah pilihan moral yang diulang-ulang sampai dianggap biasa.

Dan pada level tertinggi, praktik ini menjelma pengkhianatan. Penguasaan akses atas hal-hal vital pangan, energi, tanah oleh segelintir orang yang dengan sadar melanggar amanat konstitusi. Di titik ini, korupsi bukan lagi soal keterhanyutan. Ini kejahatan yang tahu persis apa yang dilakukannya.

Jadi, korupsi di Indonesia bukan sekadar tindak pidana. Ia sudah jadi kebiasaan, bahkan semacam adat tak tertulis. Bung Hatta pernah menyebutnya sebagai budaya bangsa kita. Seperti budaya lain, ia diwariskan tanpa upacara, dari satu meja ke meja lain, dari generasi ke generasi. Banyak orang terjerumus bukan karena niat jahat yang matang. Mereka terseret arus halus yang awalnya terasa ramah. Tiba-tiba, kaki sudah basah. Pinggang terendam. Saat menoleh, daratan sudah hilang: point of no return.

Maka tak heran, orang-orang yang dikenal saleh, rajin beribadah dan mengutip ayat, tak jarang terjaring operasi tangkap tangan KPK. Bukan berarti kesalehan mereka palsu dari awal. Mereka hidup di lanskap yang memutarbalikkan kompas moral. Di negeri ini, seseorang bisa berangkat dari niat membantu keluarga, menjaga harmoni, atau sekadar membalas jasa lalu berakhir sebagai tersangka.

Adab ketimuran berubah jadi pasal pidana. Semangat family oriented berhadapan muka dengan praktik nepotisme. Tanda terima kasih yang dulu diselipkan dengan senyum, sekarang berganti nama jadi gratifikasi. Kita hidup di wilayah abu-abu yang licin. Di sana, etika sosial dan hukum modern saling menubruk tanpa rem.


Halaman:

Komentar