Letak geografis disebutkan sebagai salah satu penyebab kerusakan hebat. Aceh Tengah dan Bener Meriah berada di kaki Pegunungan Gayo, bagian dari Bukit Barisan. Kawasan seperti ini memang rawan banjir bandang dan tanah longsor.
Melihat skala kerusakan yang begitu luas, Forum Aksi pun menyuarakan himbauan mendesak. Mereka meminta Kementerian Kesehatan untuk mempercepat program pemulihan pascabencana. Pasokan obat dan vitamin harus ditingkatkan. Layanan rehabilitasi sosial dan program healing untuk anak-anak korban bencana juga dinilai sangat penting.
Di sisi lain, masalah tempat tinggal sementara jadi persoalan krusial lainnya. Forum Aksi mendesak percepatan pembangunan Huntara, mencontoh apa yang sudah dilakukan di Aceh Tamiang.
Tekannya. Suasana di tenda pengungsian, kata dia, sudah tidak layak lagi untuk waktu yang lama.
Tak berhenti di situ, perbaikan infrastruktur dasar harus jadi prioritas. Mulai dari jaringan listrik yang putus hingga ribuan titik sumur bor di desa-desa yang hancur. Semua perlu segera dibenahi.
Wilayah dengan kerusakan terberat selain dua kabupaten tadi, antara lain Aceh Utara, Pidie, dan Bireuen. Penanganannya, menurut Dr. Nuning, butuh kerja sama terpadu lintas kementerian. Hanya dengan cara itu pemulihan bisa berjalan cepat dan warga Aceh bisa kembali hidup layak.
Laporan dari Aceh menunjukkan, jalan menuju pemulihan masih panjang. Butuh lebih banyak tangan dan perhatian agar luka ini bisa sembuh.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral