Khamenei Peringatkan AS: Perang di Iran Akan Jadi Konflik Regional

- Minggu, 01 Februari 2026 | 18:30 WIB
Khamenei Peringatkan AS: Perang di Iran Akan Jadi Konflik Regional

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, punya pesan keras untuk Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa serangan militer dari Washington takkan berakhir sederhana. Menurutnya, itu justru akan memicu perang yang meluas ke seluruh kawasan.

Khamenei tampaknya tak gentar dengan ancaman dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengerahkan kelompok kapal induk ke wilayah itu. Namun, sang Ayatollah malah mendorong rakyatnya untuk tetap tenang dan tidak takut.

“Orang-orang Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional,”

demikian kata Khamenei pada Minggu (1/2), seperti dilaporkan AFP.

Peringatan itu bukan datang dari ruang hampa. Latar belakangnya adalah respons keras aparat Iran terhadap gelombang protes anti-pemerintah yang sempat mengguncang negara itu. Awalnya demo cuma soal kenaikan harga, tapi kemudian merambat jadi gerakan penentang pemerintah yang lebih luas. Nah, situasi inilah yang memancing ancaman intervensi dari AS.

Di sisi lain, Khamenei punya pandangan sendiri soal aksi protes itu. Ia menolak menyebutnya sebagai gerakan rakyat yang spontan. Justru, ia menggambarkannya sebagai upaya kudeta yang didalangi oleh pihak asing.

“Mereka menyerang polisi, pusat-pusat pemerintahan, markas IRGC, bank, bahkan masjid. Mereka membakar Al-Qur’an. Ini seperti kudeta,” ujarnya dengan tegas.

“Dan kudeta itu berhasil kita padamkan,” tambahnya.

Soal korban, angka resmi dari pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan. Pihak berwenang di Tehran berargumen bahwa sebagian besar korban adalah anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tak bersalah. Mereka menyebut kekerasan yang terjadi lebih merupakan aksi terorisme.

Namun begitu, narasi itu ditolak mentah-mentah oleh banyak pihak di luar. Kelompok hak asasi manusia dan sejumlah pemerintah Barat punya cerita yang berbeda. Mereka menuding justru Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)-lah yang melakukan penindakan brutal, hingga menewaskan ribuan demonstran.

Ketegangan ini berimbas pada langkah politik Uni Eropa, yang akhirnya memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Balasannya cepat datang dari Tehran. Parlemen Iran tak tinggal diam, mereka membalas dengan menetapkan angkatan bersenjata negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris juga. Situasinya makin runyam, dan perang kata-kata terus memanas.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler