Tak hanya permukiman, serangan juga mengguncang distrik Sheikh Radwan, salah satu area terpadat di Kota Gaza. Sebuah kantor polisi menjadi sasaran. Direktorat Kepolisian Gaza menyebut tujuh orang tewas di sana.
Bassal menambahkan, di antara korban tersebut terdapat empat polisi perempuan. Tim penyelamat berjuang mati-matian di bawah tumpukan reruntuhan. Dengan peralatan seadanya, belasan petugas darurat berusaha mengevakuasi jenazah dari puing yang masih hangat.
Di sisi lain, wilayah selatan Gaza pun tak luput. Al-Mawasi, area yang dipadati puluhan ribu pengungsi di tenda-tenda darurat, juga dilaporkan terkena serangan. Asap hitam pekat membubung tinggi dari lokasi, meski jumlah korban jiwa di sana belum bisa dipastikan.
Yang jadi pertanyaan besar: meski gencatan senjata dikatakan memasuki fase kedua, mengapa kekerasan justru terus berlanjut? Militer Israel punya alasannya. Mereka menyatakan serangan udara ini adalah balasan atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas sehari sebelumnya.
Menurut pernyataan resmi mereka, sasaran adalah kelompok bersenjata. “Kami telah menyerang empat komandan serta anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina di berbagai wilayah Gaza,” klaim pihak militer.
Namun begitu, klaim itu langsung ditampik keras oleh Hamas. Suhail al-Hindi, anggota biro politik Hamas, mengecam habis-habisan aksi Israel ini.
“Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan besar yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun,” serunya.
Jadi, di tengah klaim dan bantahan, yang tersisa di Gaza hanyalah duka, reruntuhan, dan pertanyaan tentang kapan semua ini akan berakhir.
Artikel Terkait
Gempa 3,5 SR Guncang Karangasem, Getaran Terasa Sampai ke Dalam Rumah
Tabung Gas Meledak di Palembang, Dua Ibu Tewas Saat Siapkan Hidangan Ramadhan
Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump: Jebakan atau Pengkhianatan Konstitusi?
Prabowo Diam, Polri Tetap di Bawah Presiden: Strategi atau Keengganan Reformasi?