Belakangan ini, beredar iklan-iklan online yang cukup mengkhawatirkan. Mereka menjual gas Nitrous Oxide atau N2O, bukan untuk keperluan medis atau bikin kue, tapi untuk dihirup demi sensasi "nge-fly". BPOM pun angkat bicara.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa tim siber dan intelijen mereka telah menemukan ketidaksesuaian dalam teknik pemasaran gas tersebut. Yang paling ramai diperbincangkan adalah sebuah produk bernama Whip Pink. Alih-alih dipasarkan sesuai peruntukannya, iklan-iklan itu justru menggiring pada penyalahgunaan.
"Tim kami dari siber dan tim intelijen lagi bekerja sekarang kita akan menandai penjualan-penjualan yang di online dan kita temukan memang itu terdapat kesalahan dan itu bagian yang kami laporkan tadi," jelas Taruna di Kantor BPOM, Jakarta, Jumat (30/1).
Menurutnya, teknik marketing yang mereka temukan sengaja menonjolkan efek halusinasi dari gas itu. Padahal, dalam dunia medis, N2O yang digunakan sebagai anestesi hanya boleh dipakai di lingkungan rumah sakit. Penggunaannya di luar itu sangat berbahaya.
Di sisi lain, Taruna menyebut BPOM tak akan tinggal diam. Mereka akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengatur peredaran produk ini.
"Produknya kita akan arahkan sesuai aturan yang ada, ketiga yang berhubungan dengan dampak kepada masyarakat ini kita akan koordinasikan dengan Kemenkes dan kepolisian serta Badan Narkotika, karena aturan seharusnya itu bukan yang hanya berhubungan dengan yang N2O untuk anestesi," tegasnya.
Penelusuran pun masih terus dilakukan. BPOM bahkan telah melacak produsennya dan menemukan sejumlah kejanggalan.
"Dan kita lagi proses sekarang produsen yang seharusnya, karena saya lihat ada beberapa ketimpangan, salah satunya tentang nomor izin perusahaannya dan lainnya," tambah Taruna.
Gen Z Jadi Sasaran Empuk?
Lalu, siapa yang paling rentan terjebak menyalahgunakan Whip Pink ini? Taruna punya analisisnya. Motif utamanya, katanya, cuma coba-coba. Rasa penasaran itu yang kemudian menjerumuskan.
"Saya melihat motifnya mereka ingin coba-coba ya, setelah dia rasakan jadi kebiasaan, jadi kalau dikatakan yang rentan usia yang punya keinginan-keinginantahuan itu tinggi, usia remaja," paparnya.
Tak perlu panjang lebar, dia langsung menyasar generasi tertentu. "Gen Z, betul, salah satunya gen Z."
Jadi, situasinya sekarang cukup jelas. Ada produk yang disalahgunakan, dipasarkan dengan cara yang menyesatkan, dan mengincar anak-anak muda yang penasaran. BPOM bersama instansi terkait berusaha menghentikan peredarannya. Namun begitu, kewaspadaan dari masyarakat, terutama orang tua, tetap jadi kunci utama.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu