Menag Uraikan Konsep Kekeluargaan NU
Menurutnya, NU itu ibarat sebuah keluarga besar. Ya, keluarga. Di dalamnya tentu ada dinamika, ada perbedaan pendapat, dan berbagai macam warna. Tapi pada akhirnya, semua itu tetap berujung pada upaya menjaga kedamaian dan keutuhan.
"NU itu seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah,"
Dia melanjutkan, ikatan kekeluargaan di tubuh organisasi Islam terbesar ini sangatlah kuat. Begitu kuatnya, sampai-sampai sekat antara "kita" dan "mereka" nyaris tak ada. Semua merasa bagian dari satu rumah yang sama.
"Di dalam NU tidak ada orang lain, bahkan orang lain pun menjadi orang dalam dalam lingkungan Nahdlatul Ulama,"
Dengan pondasi semacam itu, Nasaruddin optimis melihat masa depan NU. Dia yakin organisasi ini akan terus menjadi salah satu pilar penting bangsa.
"Karena itu, insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini,"
Pernyataan ini tentu punya konteksnya sendiri. Beberapa waktu belakangan, publik sempat diramaikan oleh dinamika internal di tubuh PBNU. Isu tentang permintaan mundur terhadap Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, sempat mencuat ke permukaan.
Namun begitu, pernyataan Menag di hari istimewa ini seakan menegaskan bahwa dinamika semacam itu adalah hal yang wajar. Layaknya keluarga, pasang surut hubungan adalah bagian dari proses. Yang penting, fondasi "kekeluargaan" itu sendiri tetap kokoh berdiri.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu