Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, suasana tampak biasa saja. Padahal, di India, status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk virus Nipah sudah resmi diberlakukan. Namun, gelombang turis dari Negeri Bollywood ke Bali sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Begitulah penjelasan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, saat ditemui di Bali akhir pekan lalu.
"Belum sih, dampaknya ke kunjungan wisatawan India belum terasa," ujarnya, Jumat (30/1). "Sampai sekarang, laporan tentang cancellation atau pembatalan kedatangan ke Bali juga belum kami terima."
Meski begitu, kewaspadaan tetap diutamakan. Puspa menyebut, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Tujuannya jelas: memantau perkembangan dan menyiapkan langkah antisipasi agar virus itu tidak masuk ke Indonesia. Termasuk soal kemungkinan pembatasan penerbangan dari India.
"Langkah-langkah dari Kemenkes sudah jalan. Pemeriksaan suhu tubuh dan sejenisnya sudah dilakukan. Itu ranah mereka," kata Puspa.
Dia menambahkan, "Nanti kami akan koordinasi. Kita lihat tingkat keparahannya seperti apa. Kalau dari Kemenkes sudah ada warning khusus, baru kita ambil tindakan lebih lanjut."
Pernyataan senada datang dari pelaku industri. Ida Bagus Agung Partha Adyana, Ketua Bali Tourism Board (BTB), mengaku belum menerima laporan pembatalan nyata dari agen-agen perjalanan.
"Real cancellation dari agen kita belum ada. Jadi, kasus seperti tiba-tiba sepuluh wisatawan sakit dan batal berangkat, itu tidak terjadi," tegasnya.
Menurut Agung, para pelaku usaha kini lebih memilih bersikap hati-hati. Mereka menunggu instruksi resmi dari Kemenkes sebelum mengambil keputusan terkait perjalanan turis India.
"Mereka pasti akan mendeteksi dulu, merujuk pada informasi dari WHO atau lembaga lain. Kalau Kemenkes bilang 'stop', ya kita stop. Jangan ambil kesimpulan sendiri-sendiri. Soalnya, sejak pandemi COVID-19, pertukaran informasi antar-instansi sudah jauh lebih integrated," jelasnya.
Di sisi lain, upaya pencegahan di pintu masuk sudah ditingkatkan. Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Denpasar memperketat pengawasan terhadap penumpang yang datang dari India. Dua thermal scanner dipasang di terminal kedatangan internasional, ditambah satu lagi di area domestik Bandara Ngurah Rai.
Jika ada penumpang yang terdeteksi demam, mereka akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan, jika dicurigai mengidap virus Nipah, penumpang akan dirujuk ke RSUP Prof. IGNG Ngoerah. Sampel toraks pun akan diambil dan dikirim ke laboratorium di Surabaya untuk konfirmasi.
Kewaspadaan ini punya alasan kuat. Data BPS Bali mencatat, sepanjang Januari hingga November 2025, turis India adalah penyumbang kunjungan terbesar kedua ke Pulau Dewata. Angkanya mencapai 511.916 orang. Posisi puncak masih dipegang Australia dengan 1,4 juta lebih wisatawan, sementara Malaysia berada di peringkat kelima.
Jadi, situasinya memang cukup unik. Di satu sisi, ancaman kesehatan nyata ada. Namun di sisi lain, geliat pariwisata setidaknya untuk saat ini masih berdenyut seperti biasa. Semuanya kini bergantung pada koordinasi dan keputusan yang diambil dalam hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu