Satu-satunya Nama yang Dijawab Telepon: Kisah Pria yang Menjadi Pelabuhan Terakhir Anak-Anak Sekarat

- Kamis, 01 Januari 2026 | 06:00 WIB
Satu-satunya Nama yang Dijawab Telepon: Kisah Pria yang Menjadi Pelabuhan Terakhir Anak-Anak Sekarat

Anak-anak itu akan mati. Mohamed Bzeek tahu itu. Sudah lebih dari dua dekade ia menjadi ayah asuh, dan dalam kurun waktu itu, ia justru memilih untuk menerima mereka anak-anak yang kondisinya paling parah, yang paling rentan, di tengah sistem perawatan anak asuh Los Angeles County yang begitu luas.

Sudah sekitar sepuluh anak yang ia kuburkan. Beberapa di antaranya menghembuskan napas terakhir tepat di pelukannya.

Sekarang, hari-harinya dihabiskan untuk merawat seorang gadis kecil berusia enam tahun. Gadis itu terbaring di tempat tidur, dikalahkan oleh cacat otak langka yang menghancurkan. Ia buta. Ia tuli. Kejang datang hampir setiap hari. Lengan dan kakinya lumpuh total. Bzeek, seorang Muslim taat kelahiran Libya yang tinggal di Azusa, hanya punya satu keinginan sederhana: agar gadis ini tahu, bahwa dalam hidupnya yang singkat dan penuh derita ini, ia tidak sendirian.

“Saya tahu dia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat,” ujarnya, suaranya lirih namun tegas.

“Tapi saya selalu berbicara padanya. Saya gendong, saya ajak main, saya sentuh. … Dia punya perasaan. Dia punya jiwa. Dia manusia.”

Menurut Rosella Yousef, asisten administrator regional untuk unit khusus di Departemen Layanan Anak dan Keluarga, dari 35.000 anak yang diawasi, ada sekitar 600 anak dengan kebutuhan medis paling kritis. Mereka masuk dalam program Layanan Manajemen Kasus Medis. Dan faktanya, kata Yousef, kebutuhan akan orang tua asuh untuk anak-anak seperti ini sangatlah mendesak.

Sayangnya, di wilayah itu, hanya ada satu nama yang muncul.

Hanya Mohamed Bzeek.

“Kalau ada telepon masuk yang bilang, ‘Ada anak butuh tempat tinggal untuk perawatan paliatif,’ cuma satu nama yang langsung terpikir,” jelas Melissa Testerman, seorang koordinator penerimaan di DCFS yang tugasnya mencarikan rumah untuk anak-anak sakit parah.

“Dia satu-satunya yang bersedia menerima anak yang… mungkin besok sudah tidak ada.”

Biasanya, anak dengan kondisi sangat kompleks akan ditempatkan di fasilitas medis atau dengan perawat yang memang memilih jalur ini. Namun begitu, Yousef menegaskan bahwa Bzeek adalah satu-satunya orang tua asuh di wilayahnya yang diketahui mau menerima tanggung jawab seberat itu. Meski tahu pria tunggal ini sudah kewalahan dengan gadis kecil yang butuh perhatian 24 jam, Yousef tetap mendekatinya di pesta Natal departemen Desember lalu. Ia bertanya, apakah Bzeek mungkin bisa menerima anak sakit lainnya.

"

Di sudut sofa ruang tamu Bzeek, gadis itu duduk bersandar pada bantal. Rambut cokelatnya yang panjang dan tipis diikat ekor kuda. Alisnya terbentuk sempurna, melengkung di atas mata abu-abu yang kosong menatap ke ruang hampa.

Atas alasan kerahasiaan, identitasnya tidak bisa diungkap. Tapi izin khusus dari pengadilan memungkinkan "The Times" untuk menghabiskan waktu di rumah Bzeek dan berbicara dengan orang-orang yang terlibat dalam kasus anak angkatnya ini.

Kepalanya terlihat terlalu kecil untuk tubuhnya yang hanya berbobot 34 pon juga terlalu kecil untuk usianya yang enam tahun. Menurut Dr. Suzanne Roberts, dokter anaknya di Rumah Sakit Anak Los Angeles, gadis ini lahir dengan ensefalokel. Itu kelainan langka di mana sebagian jaringan otak menonjol keluar melalui celah di tengkorak. Tak lama setelah lahir, ahli bedah saraf mengangkat jaringan yang menonjol itu. Tapi sebagian besar otaknya tetap tidak berkembang.

Bzeek sudah merawatnya sejak ia berusia satu bulan. Sebelumnya, tiga anak lain dengan kondisi serupa juga pernah ia asuh.

“Bagi anak-anak seperti ini,” katanya pelan, “ini adalah hukuman seumur hidup.”

Bzeek, pria 62 tahun bertubuh gemap, berjanggut panjang dan gelap, bicaranya selalu lembut. Ia adalah anak tertua dari sepuluh bersaudara. Pertama kali datang ke Amerika Serikat dari Libya sebagai mahasiswa pada 1978.

Pengalaman pertama kehilangan anak asuh yang sakit menimpanya pada 1991. Waktu itu, anak tersebut adalah bayi dari seorang pekerja pertanian yang hamil dan tanpa sengaja menghirup pestisida beracun dari penyemprotan udara. Bayi itu lahir dengan kelainan tulang belakang, seluruh tubuhnya digips. Ia belum genap setahun ketika meninggal pada 4 Juli 1991 tepat saat keluarga Bzeek sedang sibuk menyiapkan makan malam.

“Kematian gadis kecil itu… sangat menyayat hati,” kenang Bzeek, matanya menerawang pada foto seorang bayi berbaju putih berenda, terbaring di peti mati kecil yang dikelilingi bunga-bunga kuning.

Di pertengahan tahun 90-an, keluarga Bzeek akhirnya membuat keputusan besar. Mereka memutuskan untuk fokus merawat anak-anak yang sakit parah, yang bahkan sudah memiliki perintah ‘do not resuscitate’ karena nyaris tak ada orang lain yang mau menerima mereka.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar