Lewat unggahan di akun media sosialnya pada Ahad lalu, Dino Patti Djalal tak main-main. Mantan Wakil Menlu itu melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurutnya, Kemlu sedang dilanda krisis kepemimpinan yang serius. Bahkan, dia menyebut ancaman "demoralisasi" di kalangan diplomat.
Sebagai sesepuh dan Ketua FPCI, Dino mengaku sudah tak punya pilihan lain. Seluruh jalur komunikasi, baik formal maupun personal, ke Menlu Sugiono terblokir. Sudah berbulan-bulan. "Itu yang akhirnya mendorong saya bicara lewat sini," katanya.
Analoginya cukup gamblang. Dino menyamakan Kemlu dengan mobil Ferrari punya mesin dan talenta luar biasa. Tapi performanya jeblok karena pengemudinya tak fokus. Sorotan utama Dino adalah minimnya waktu Sugiono memimpin kementerian secara penuh. Banyak hal, katanya, terbengkalai.
"Banyak KBRI yang tidak mendapatkan arahan dari pusat," ujar Dino.
Ia melanjutkan, rapat koordinasi para Duta Besar tertunda hampir setahun. Bahkan, banyak Dubes kesulitan menemui Menlu saat mereka pulang ke Indonesia.
Dampaknya? Banyak peluang diplomatik tingkat tinggi yang tak tertindaklanjuti. Dino memperingatkan, jika terus begini, Kemlu yang selama ini jadi pusat keunggulan bakal merosot. Bisa jadi "pulau mediokritas," istilahnya.
Di sisi lain, kritik paling tajam justru soal komunikasi publik. Dino menyayangkan sikap Menlu yang hampir setahun menjabat, tapi belum pernah menyampaikan pidato kebijakan atau wawancara mendalam soal substansi politik luar negeri.
"Kami tidak ingin melihat Menlu Sugiono mendapat predikat sebagai silent minister," tegasnya.
Komunikasi Menlu, lanjut Dino, didominasi unggahan Instagram. Penuh foto dan video, tapi minim suara. Ia membandingkan dengan Menteri Keuangan Purbaya yang dinilainya sangat komunikatif, sehingga dapat dukungan publik kuat. Dino mengingatkan prinsip mendiang Ali Alatas: diplomasi dimulai dari dalam negeri. Percuma jika tak dipahami rakyat sendiri.
Pengalaman pahit juga ia ceritakan. Saat menggelar konferensi politik luar negeri terbesar di dunia, ribuan anak muda hadir. Tapi surat dan pesan dari panitia tak pernah dibalas Menlu. Berbulan-bulan.
"Di negara manapun, Menlu pasti akan membatalkan agenda lain untuk menemui konstituen hubungan internasional dalam negeri. Namun, Menlu Sugiono justru menjauh dan menutup pintu," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dino memberikan peringatan keras. Menurutnya, Sugiono cuma punya "satu tembakan" dalam sejarah. Jika tak segera lakukan reformasi internal dan buka diri, warisannya akan buruk.
"Jika usulan ini tidak dilakukan, Kemlu akan redup, diplomasi Indonesia merosot, dan Menlu Sugiono akan dicatat sejarah dengan nilai merah," pungkas Dino.
Artikel Terkait
Gerindra Syukur 18 Tahun, Dasco Tekankan Kaderisasi dan Kedekatan dengan Rakyat
Program Makan Bergizi Tetap Berjalan di Bulan Puasa dengan Mekanisme Disesuaikan
MK Gelar Sidang Uji Materi Pasal KUHP Baru yang Dikhawatirkan Kriminalisasi Kritik
Anggota DPR Kritik Target Konsumsi Susu Anak, Sebut Statistik Bohong