Didu Desak Prabowo Lakukan Operasi Kedaulatan untuk Rebut Indonesia dari Oligarki dan Asing

- Rabu, 17 Desember 2025 | 23:50 WIB
Didu Desak Prabowo Lakukan Operasi Kedaulatan untuk Rebut Indonesia dari Oligarki dan Asing

Dalam sebuah forum yang digelar Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pekan lalu, aktivis Muhammad Said Didu melontarkan kritik yang sangat tajam. Ia menuding bahwa selama sepuluh tahun terakhir, pemerintahan Presiden Joko Widodo telah melepas lima pilar kedaulatan Indonesia. Menurut Didu, kedaulatan itu kini beralih ke tangan oligarki dan kepentingan asing.

Pernyataannya yang blak-blakan itu diunggah di kanal YouTube pribadinya pada Rabu, 17 Desember 2025.

“Presiden Prabowo harus melakukan operasi pengambilan kembali kedaulatan Indonesia,” tegas Didu tanpa basa-basi.

Oligarki Kuasai Politik

Didu memulai dengan menyoroti kedaulatan politik. Ia geram melihat betapa sunyinya partai-partai politik ketika banjir besar melanda Sumatera. Kenapa bisa begitu? Menurut analisanya, oligarki yang diduga merusak kawasan itu justru merupakan ‘teman’ dari partai-partai tersebut.

“Tidak ada partai politik pun bicara di saat rakyat menderita,” ucapnya.

Contoh lain yang ia sebut adalah kasus penggusuran di PIK 2. Situasinya mirip: tak ada yang berani bersuara, bahkan gubernur setempat dituding membiarkan rakyatnya dipenjara.

Hukum Hanya Pesanan

Lalu, bagaimana dengan hukum? Didu menyebut penegak hukum sudah kehilangan kedaulatannya. Aturan seperti Perpol Nomor 10, katanya, terbit bukan untuk kepentingan umum, melainkan atas pesanan segelintir orang berkuasa.

“Hampir tiap hari saya menghadiri pengadilan pesanan oligarki untuk memenjarakan rakyat,” ungkapnya dengan nada getir.

Ia lalu menyentil kasus penggusuran tanah milik mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Sulawesi Selatan, yang dilakukan oleh grup alumni Lemhanas. Kalau orang sekelas JK saja tak bisa melawan, lalu bagaimana rakyat biasa bisa berharap?

“Jangan berharap ada kedaulatan hukum,” kritiknya.

Ekonomi dan Kekayaan Alam yang Tergerus

Di sisi lain, kedaulatan ekonomi dan sumber daya alam juga diklaim telah dikuras habis. Didu menggambarkan sebuah siklus yang muram: mulai dari menyogok politisi untuk membuat UU, menyuap pengambil kebijakan demi dapat izin, lalu ke bank untuk kredit. Keuntungan yang didapat, diputar lagi untuk menyogok dan menggusur.

Sorotan khusus ia berikan pada kasus Morowali. Di sana, perusahaan asal China disebut mendapat pembebasan pajak, cukai, dan berbagai kewajiban. Bahkan, mereka dijaga oleh oknum-oknum berseragam dari pasukan khusus.

“Lebih parah dari Freeport,” katanya.

Yang memilukan, dari ekspor nikel yang nilainya mencapai 38 miliar dolar AS per tahun, atau setara 500 triliun rupiah, yang tersisa di Sulawesi Tengah hanya sekitar 200 miliar rupiah. Angka yang timpang sekali.

Kekhawatiran di Medan

Lebih mengkhawatirkan lagi, Didu mengungkap sebuah insiden di Ketapang. Ia menyebut tentara kita mundur karena jumlah orang China di lokasi lebih banyak. Cerita ini jelas bikin merinding.

“Saya mulai takut di Indonesia ini karena ternyata tentara kita sudah lari kalau ada orang China datang,” ujarnya.

Ia juga menyindir pernyataan Luhut Binsar Panjaitan yang dianggapnya lebih percaya pada Presiden China Xi Jinping daripada Presiden Prabowo, terutama terkait isu ‘negara dalam negara’ di Morowali.

Seruan Terakhir

Di akhir paparannya, Didu menyampaikan pesan langsung untuk Presiden Prabowo Subianto. Euforia kemenangan, katanya, sudah saatnya ditinggalkan.

“Saatnya bangkitkan kembali nasionalisme dan patriotisme. Indonesia sedang dalam keadaan darurat,” serunya.

Menurut Didu, yang dibutuhkan sekarang bukan lagi wacana, melainkan sebuah operasi nyata untuk mengambil kembali kedaulatan Republik Indonesia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler