Asap sudah lama sirna, tapi duka di lokasi kebakaran gedung Terra Drone di Kemayoran masih terasa berat. Peristiwa nahas yang merenggut 22 nyawa pada Selasa (9/12) itu kini jadi fokus penyelidikan polisi. Hingga kini, mereka masih mengumpulkan titik-titik terang.
Pemeriksaan terhadap sang pemilik gedung, yang berinisial N, sudah dilakukan Sabtu (13/12). Tapi, kata polisi, belum ada temuan yang mengarah pada unsur kelalaian. Prosesnya masih berjalan.
“Masih dicari, masih perlu pendalaman,” ujar Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, Rabu (17/12).
Di sisi lain, ada satu fakta yang diakui sendiri oleh pemilik gedung: bangunan itu tak dilengkapi tangga darurat. Namun, N bersikukuh bahwa gedungnya punya izin resmi. Bahkan, izin itu diklaim terbit di era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta kala itu, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
“Ya, memang benar, memang begitu keadaannya (tidak ada tangga darurat), tapi izin mendirikan bangunan sama sertifikat laik fungsi itu keluar antara sekitar tahun 2014 dan 2015,” tutur Roby mengulang pernyataan pemilik.
Lantas, kapan pemilik gedung akan diperiksa ulang? Menurut Roby, itu akan dilakukan nanti. Tapi, polisi ingin mendengar keterangan para ahli dulu sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
“Nanti kita dengar dulu pendapat saksi-saksi ahli, baru kalau memang perlu pendalaman lagi, kita panggil lagi,” jelasnya.
Sebelumnya, temuan lain yang cukup mengejutkan datang dari Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro. Dia menyebut, di ruko itu sama sekali tidak ada SOP untuk menyimpan barang-barang yang mudah terbakar. Padahal, lokasi itu digunakan untuk menyimpan banyak baterai.
“Hasil penyelidikan kami menemukan fakta bahwa tidak ada SOP terkait dengan penyimpanan baterai mudah terbakar,” kata Susatyo pada Jumat (12/12).
Lebih parah lagi, semua jenis baterai yang rusak, bekas, maupun yang masih bagus disimpan jadi satu. Ruang penyimpanannya pun sangat sempit, cuma sekitar 2x2 meter. Ruangan itu juga tidak punya ventilasi yang memadai dan sama sekali tidak tahan api.
Yang bikin situasi semakin riskan, sebuah generator atau genset yang berpotensi memancarkan panas, ditempatkan di area yang sama. Gabungan faktor-faktor itulah yang diduga kuat memicu tragedi maut tersebut.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu