Pemandu Palsu di Keraton Yogya, Putri Sultan Ungkap Langkah Mitigasi

- Rabu, 17 Desember 2025 | 13:42 WIB
Pemandu Palsu di Keraton Yogya, Putri Sultan Ungkap Langkah Mitigasi

Keraton Yogyakarta tetap jadi magnet utama bagi para pelancong. Namun, di balik gemanya, ada persoalan yang mengintai: maraknya pemandu wisata palsu yang menjerat turis. Gusti Kanjeng Ratu Bendara, sang Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan KHP Nitya Budaya, tak menampik soal ini.

Putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X itu mengaku pihak keraton sudah bergerak. Mereka tak tinggal diam.

"Jadi, kami kemarin sudah berkomunikasi dengan pemangku kebijakan di lokal situ, yaitu adalah Pak Mantren (Camat) dan juga Pak Lurah, yang berkoordinasi terus untuk dengan dengan warga lokal sekitar situ,"

Begitu penjelasan Bendara, Rabu (17/12) lalu, usai menghadiri sebuah acara di Yogyakarta. Ia juga menjabat sebagai Kepala BPPD DIY.

Menurutnya, langkah mitigasi harus datang dari dua arah. Di satu sisi, kemampuan pemandu wisata asli di lingkungan keraton perlu terus ditingkatkan. Tapi di sisi lain, para wisatawan sendiri juga harus melek informasi sebelum datang.

"Karena scam itu pasti akan ada dengan bentuk-bentuk yang lebih advance. Kita menanggulangi satu, bentuknya akan lebih advance dan berputar terus. Yang kita bisa lakukan adalah menangani satu demi satu pada saatnya,"

Ucapnya lugas. Memang, potensi penipuan semacam ini masih sangat nyata. Terbukti dari laporan seorang wisatawan di media sosial pada November lalu yang viral. Ia mengaku menjadi korban pemandu palsu saat berkunjung ke keraton.

Lebih Dari Sekadar Waspada

Selain kewaspadaan, Gusti Bendara punya pesan lain yang tak kalah penting: soal sikap dan etika.

"Buat wisatawan yang datang ke Yogya, tolong hargai kebudayaan kita yang ada, jangan buang sampah sembarangan. Tentunya, jangan foto-foto di jalan, gunakanlah jalan trotoar, foto-fotolah di pinggir trotoar, hargailah kebudayaan kita, dan tetap jaga kebersihan dan juga sopan santun,"

Pesan itu sederhana, tapi mendasar. Ia ingin setiap kunjungan tak hanya meninggalkan kenangan, tapi juga rasa saling menghormati. Keraton bukan sekadar objek foto, ia adalah rumah yang hidup dengan tata krama yang telah berjalan berabad-abad.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler