AI dan Al-Quran: UIKA Bogor Bahas Strategi Dakwah di Era Digital

- Minggu, 14 Desember 2025 | 00:25 WIB
AI dan Al-Quran: UIKA Bogor Bahas Strategi Dakwah di Era Digital
Seminar Al-Qur'an dan AI di UIKA Bogor

Bogor – Sabtu lalu, 13 Desember 2025, Aula Fakultas Agama Islam UIKA Bogor ramai oleh diskusi yang tak biasa. Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) menggelar seminar nasional yang mengaitkan kitab suci dengan teknologi masa depan. Temanya? 'Al-Qur'an dan AI: Untuk Membangun Personal Branding Dakwah di Era Digital'.

Memang, kecerdasan buatan atau AI kini bukan lagi sekadar imajinasi. Perkembangannya luar biasa cepat, didorong daya komputasi dan data yang melimpah. Dari teori, ia telah berubah menjadi alat praktis yang bisa mengolah informasi dalam skala masif. Inovasi baru pun terbuka lebar. Tapi di sisi lain, kita juga dihadapkan pada sederet tantangan, terutama soal etika dan privasi yang butuh kearifan ekstra dalam mengelolanya.

Lantas, bagaimana Islam memandangnya? Dalam perspektif keagamaan, kemajuan AI ini dilihat sebagai anugerah. Sebuah alat bantu yang sangat bermanfaat dan justru didorong penggunaannya. Syaratnya jelas: pengembangannya harus berlandaskan etika Islam dan ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia.

Nah, di sinilah peluangnya muncul. Perkembangan teknologi ini bisa jadi momentum signifikan untuk mendukung dakwah. Dengan AI, efektivitas dan jangkauan branding dakwah di era digital berpotensi meningkat pesat. Tentunya, semua itu dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai etika Islam yang menjadi pondasi.

Seminar itu sendiri dihadiri tak hanya oleh mahasiswa IAT, tapi juga para akademisi dan peserta umum dari masyarakat luas. Suasana terasa hidup dan penuh antusiasme.

Acara dibuka dengan sambutan dari dekanat yang mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya, Dr. KH. Akhmad Alim selaku Kaprodi IAT memberikan pengantar. Ia menekankan urgensi bagi generasi muda untuk melek media digital. "Mereka harus muncul ke permukaan, mewarnai media sosial demi kemaslahatan yang lebih global," katanya.

Dalam paparannya, Alim menggambarkan potensi AI dengan gamblang.

"Kecerdasan buatan menawarkan peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah. Caranya jadi lebih inovatif dan relevan. Bayangkan, kalau kita berdakwah di atas mimbar, jangkauannya mungkin seratus atau seribu orang. Tapi dengan memanfaatkan teknologi digital, pesan yang sama bisa menyentuh ribuan, bahkan jutaan hingga miliaran orang," ujar Akhmad Alim.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. C. H. Sofian Sauri, M.Pd., dosen IAT UIKA Bogor. Tema yang diangkat cukup mendalam: 'Al-Qur'an dan Masa Depan Peradaban: Membaca Teknologi Modern dari Wahyu 1400 Tahun Lalu'.

Ia mengingatkan satu hal penting. Akal manusia, kata dia, tak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Sebab, manusia dianugerahi akal, hati, dan ruh yang tidak dimiliki oleh teknologi apa pun. Karena itulah, pemanfaatan AI harus selalu dikendalikan oleh hati nurani dan nilai-nilai Islam. Tujuannya agar tidak menyimpang dari norma dan etika yang syar'i.

Pemateri kedua, M. Fuad Abdullah, M.Pd. dari Institut Muslim Cendekia, kemudian melanjutkan dengan tema 'Al-Qur'an, AI dan Personal Branding: Membangun Identitas Dakwah di Ruang Digital'.

Menurut pemaparannya, dakwah di era digital ini tetap wajib berlandaskan pada nilai-nilai Al-Qur'an, kedalaman ilmu, dan akhlak seorang da'i. Teknologi, termasuk AI, hanyalah alat penunjang. Fungsinya untuk meningkatkan efektivitas penyampaian dan memperkuat personal branding secara bertanggung jawab. Etika tetaplah yang utama.

Melalui seminar semacam ini, harapannya jelas: membuka wawasan dan literasi generasi muda. Mereka diajak untuk meningkatkan visibilitas dengan memanfaatkan platform digital media sosial, YouTube, podcast untuk menembus batas geografi dan waktu. Dengan begitu, pesan dakwah bisa menjangkau audiens yang jauh lebih luas.

Jangkauan itu juga mencakup generasi milenial dan Gen Alpha. Tujuannya membangun citra positif yang kredibel, sekaligus menyusun strategi branding baik personal maupun institusi dakwah agar tampil profesional dan terpercaya di mata masyarakat digital. []

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler