"Abang tahu bagaimana ekonomi Aceh Tamiang? Sulit bisa kami katakan, kami makan enggak makan, jadi pengemis kami, sedih abang coba bayangkan," tutur Dodi.
"Inilah fakta, tidur di bawah pohon pakai tenda dan kayu," tambahnya, melengkapi gambaran keprihatinan itu.
Di sisi lain, Kantor Bupati setempat telah disulap menjadi posko pengungsian utama. Bantuan berdatangan: beras, pakaian, obat-obatan, dan bahan pokok lainnya. Namun, suasana di luar masih suram. Pasar banyak yang tutup, jalanan terlihat habis tak bersisa disapu arus banjir.
Menurut Cut, bantuan dari posko itu belum bisa disalurkan ke kampung-kampung. Akibatnya, warga terpaksa datang sendiri untuk mengambilnya.
Masalahnya, jaraknya cukup jauh. Sekitar 5 kilometer dari tempat mereka. Dan mereka tak punya kendaraan untuk menempuhnya.
"Baginilah kami apa adanya, tunggu menunggu, ini makan nunggu dari orang-orang di jalan, siapa yang lewat dikasih. Kalau kami nunggu di kampung enggak makan," keluh Dodi.
Di tengah semua kesulitan itu, harapan mereka sederhana. Mereka cuma berharap bantuan yang disalurkan tepat sasaran, tanpa ada pemotongan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Kami beras tolong dibantu," pinta Dodi, menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri
Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK, Kasus Kuota Haji 2023-2024 Menyandang Status Tersangka
Rapat Pleno PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya, Tegakkan Kembali Aturan Dasar
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal