Suasana Balai Desa Serangan, Denpasar, Sabtu siang itu, ramai oleh suara riuh dan tawa. Sekelompok anak-anak asyik balapan mobil. Tapi ini bukan balapan biasa. Mobil-mobilan mereka terbuat dari kayu, dan yang bikin jalan cuma mengandalkan tenaga matahari dari panel surya yang tertempel di atasnya.
Fokus mereka bukan cuma pada kecepatan. Setiap kali ada bayangan yang mendekat, riuh rendah pun terdengar. "Awas-awas, jangan halangi matahari!" teriak mereka bergantian, mengusir teman yang iseng menghalangi sinar ke panel. Kalau panelnya terhalang, mesin langsung mati dan mobil pun berhenti. Jadi, selain balap, mereka juga harus jaga agar 'bahan bakar' matahari tetap tersedia.
Kegembiraan terpancar jelas. Saat menang, sorak-sorai. Saat kalah, tantangan untuk rematch langsung dilayangkan. Energi mereka seolah tak pernah habis, baik untuk bersaing dengan teman maupun melawan teriknya matahari Bali.
Di balik keseruan itu, ada misi yang lebih besar. Aktivitas ini adalah bagian dari edukasi teknologi ramah lingkungan untuk anak-anak usia dini.
“Kita harus mengajari mereka tentang teknologi alternatif ini supaya mereka bisa jadi next generation, yang berani mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, yaitu mengenai energi bersih,”
kata Muhammad Lukman Rizkika dari Comunity Development Fab Lab Bali.
Program pembelajaran ini sudah berjalan sekitar setahun terakhir. Sekitar 15 anak, usianya antara 6 sampai 12 tahun, belajar bertahap setiap bulannya. Awalnya, mereka dikenalkan pada hal-hal sederhana seperti membuat pewarna alami dari tumbuhan atau merakit foldscope, mikroskop kertas yang terinspirasi origami.
Lambat laun, materinya berkembang. Mereka mulai bermain dengan energi alternatif. Mulai dari kincir angin, lampu yang dinyalakan dengan tenaga angin, hingga, ya, mobil-mobilan bertenaga surya ini. Bahkan beberapa sudah mulai merakit drone sederhana dari tusuk sate. Intinya, merangsang ketertarikan pada sains dengan cara yang menyenangkan.
“Mereka nangkep pelajaran mudah dan antusiasnya luar biasa untuk membuat hal-hal yang baru mungkin di kehidupan mereka,”
tambah Lukman.
Untuk sesi mobil surya itu, anak-anak diberi kit berisi kerangka kayu, panel surya kecil, dinamo, dan bagian lainnya. Dalam waktu 30 sampai 40 menit, dengan bimbingan tim Fab Lab, mereka merakitnya sendiri.
Haris, salah satu bocah berusia 10 tahun, mengaku senang bisa ikut. Menurutnya, merakitnya ada tantangannya sendiri.
“Senang karena dulu pernah rakit kapal dari baterai, sekarang rakit mobil dari panel surya. Yang agak sulit memasang aja sih,”
ucapnya. Bagian tersulit ternyata adalah menyambungkan kabel dari dinamo ke panel surya.
Jadi, di balai desa yang sederhana itu, selain tawa dan kompetisi, ada juga pelajaran tentang masa depan. Sebuah permainan yang sederhana, namun menyimpan pelajaran besar tentang energi bersih untuk generasi mendatang.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu