Dari Jari ke Parlemen: Kisah Doktor yang Menguak Politik Digital Gen Z

- Minggu, 07 Desember 2025 | 07:00 WIB
Dari Jari ke Parlemen: Kisah Doktor yang Menguak Politik Digital Gen Z

Sabtu lalu, 6 Desember 2025, suasana di Airlangga Convention Center dipenuhi kebanggaan. Di antara ratusan wisudawan, nama Ais Shafiyah disebut sebagai Wisudawan Terbaik S3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga. Penghargaan itu ia terima pada Wisuda Periode 255, sebuah puncak dari perjalanan panjangnya meraih gelar doktor.

Disertasinya mengupas tuntas bagaimana media sosial memengaruhi aktivitas politik Generasi Z di Surabaya, khususnya saat Pilpres 2024. Menurut Ais, dunia politik bagi anak muda sekarang sudah jauh berbeda.

“Generasi Z sekarang bisa berpartisipasi politik hanya dengan jari mereka. Mengikuti akun kandidat saja sudah termasuk bentuk partisipasi politik,”

Begitu katanya, menggarisbawahi pergeseran makna partisipasi itu.

Penelitian doktoralnya ini sebenarnya melanjutkan tesis S2. Bedanya, Ais menambahkan dua variabel kunci: efikasi politik dan preferensi kandidat. Hasilnya jelas. Partisipasi politik tak lagi soal turun ke jalan atau datang ke bilik suara. Ia menemukan Gen Z justru lebih aktif di dunia digital ikut akun calon, menyebarkan konten kampanye, atau mendukung gerakan sosial lewat unggahan online. Ruang fisik dan maya kini nyaris tak berbatas.

Pilihan dan Komitmen

Perjalanan akademik Ais cukup unik. Meski S1 dan S2 ditempuh di luar negeri, untuk S3 ia memilih pulang ke UNAIR. Alasannya sederhana tapi penuh pertimbangan: fleksibilitas. Tahun 2023, ia sedang mempersiapkan pencalonan sebagai anggota DPRD. Ia butuh sistem yang bisa mendukung dua peran sekaligus.

“UNAIR memberikan ruang yang memungkinkan saya tetap produktif secara akademik sambil menjalani komitmen politik,”

Ungkap perempuan yang kini resmi menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surabaya itu. Pilihannya ternyata tepat.

Kedisiplinan yang ketat membuatnya menyelesaikan hampir seluruh ujian dan progres disertasi sebelum dilantik. Jadi, ketika tugas legislatifnya dimulai, beban akademisnya sudah hampir beres. Komitmen ganda inilah yang rupanya diam-diam mengantarnya ke predikat wisudawan terbaik.

Di luar gedung parlemen dan kampus, hidup Ais juga diwarnai kegiatan lain. Ia mendirikan komunitas Kawan Ayu, sebuah gerakan sosial yang fokus pada pemberdayaan. Sasaran utamanya adalah perempuan, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas, tak lupa isu lingkungan. Lewat jalur ini, ia berharap kontribusinya bisa menyentuh masyarakat lebih dalam, tanpa terbebani oleh sekat-sekat politik formal. Baginya, berkarya untuk orang lain punya banyak jalan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler