Lalu, solusinya seperti apa? Sutoyo menunjuk contoh dari dua tokoh yang berbeda zaman.
Pertama, Kapten Ibrahim Traoré dari Burkina Faso. Menurutnya, Traoré membangun negara dalam waktu singkat dan mencengangkan dunia karena tindakannya. Keteguhan hatinya terlihat lebih nyata, bahkan lebih keras dari sekadar kata-kata.
Kedua, untuk menghadapi pengkhianat, Sutoyo menyebut tindakan tegas Benito Mussolini. Ceritanya, setelah Italia menduduki Etiopia tahun 1935, para tokoh lokal yang membantu kemenangan diundang Mussolini naik pesawat untuk joy flight. Begitu terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan mereka dibuang keluar tanpa parasut.
Prinsipnya kejam tapi jelas: sekali pengkhianat, tetap pengkhianat seumur hidup.
Dari situlah Sutoyo Abadi kemudian menyampaikan harapannya.
Semua itu, ditegaskannya, cuma akan terwujud dengan tindakan. Bukan orasi, pidato, atau ancaman kosong yang justru melahirkan pembangkangan dan penjarahan sumber daya alam di mana-mana.
Pesan akhirnya singkat tapi berat: hadapi semua kenyataan dengan tindakan tegas. Lari dari kenyataan? Masalahnya justru akan semakin berat.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral