Guillermo del Toro: Saya Penggemar Berat Kematian

- Senin, 08 Desember 2025 | 18:50 WIB
Guillermo del Toro: Saya Penggemar Berat Kematian

Pandangan Guillermo del Toro soal Kematian Bikin Ruangan Senyap

Guillermo del Toro punya cara sendiri untuk mengubah suasana sebuah forum. Sutradara Meksiko peraih tiga Oscar itu baru-baru ini hadir di Festival Film Marrakesh, Maroko. Awalnya, diskusi dijadwalkan membahas karya-karyanya. Tapi siapa sangka, obrolan justru berbelok ke topik yang lebih gelap dan eksistensial: kematian.

Di hadapan para jurnalis, sineas muda, dan mahasiswa, del Toro tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang bikin semua orang terdiam. Ia mempertanyakan, sebenarnya untuk apa manusia ingin hidup lebih lama, sementara hidup sendiri kerap dipenuhi beban dan masalah yang tak ada habisnya.

Setelah memberikan pengantar yang cukup panjang tentang hidup dan kreativitas, barulah ia menyampaikan inti pandangannya dengan blak-blakan.

“Mengapa Anda ingin hidup lebih lama?”

Begitu katanya, seperti dilaporkan E! pada Minggu (7/12). Pertanyaan retoris itu hanya pembuka. Yang berikutnya justru lebih mengejutkan.

“Saya penggemar berat kematian. Saya pikir kematian itu sangat baik. Saya sungguh menantikannya, karena di hari itulah Anda berkata, ‘Besok saya tidak akan punya masalah lagi.’”

Jelas saja, pernyataan itu menimbulkan keheningan yang berbeda. Namun begitu, del Toro tak berlama-lama terpuruk dalam atmosfer muram itu. Dengan lancar, ia mengalihkan pembicaraan kembali ke dunia film, khususnya proyek terkininya: adaptasi Frankenstein untuk Netflix.

Menurutnya, adaptasi kali ini punya sudut pandang unik: pengampunan. Sebuah tema yang ia klaim jarang disentuh dalam ratusan versi Frankenstein sebelumnya.

“Sudah ada lebih dari 100 Frankenstein, dan saya yakin banyak di antaranya bukan tentang itu,” ujarnya.

Lebih jauh, del Toro mengungkapkan bahwa film ini sangat personal baginya. Ia melihatnya sebagai cerminan dari perjalanan emosionalnya sendiri, terutama soal menjadi seorang anak dan kemudian seorang ayah. Perubahan dalam cara ia memandang pengasuhan itu, katanya, terjadi justru sebelum film ini dibuat dan akhirnya meresap ke dalam narasinya.

“Film ini sangat personal, karena ini melibatkan saya sebagai seorang anak sekaligus ayah. Saya selama bertahun-tahun merasa seperti anak laki-laki sehingga lupa bahwa saya sudah menjadi orang tua,” bebernya.

Nampaknya, pendekatan personal itu berhasil. Adaptasi Frankenstein-nya mendapat sambutan luar biasa. Di Rotten Tomatoes, film yang dibintangi Oscar Isaac, Jacob Elordi, dan Mia Goth ini meraih skor kritik 86% dan skor penonton 94%. Sebelum tayang di Netflix, film ini sudah lebih dulu dipuji di Festival Film Venesia ke-82, disebut-sebut sebagai salah satu interpretasi modern terbaik dari kisah Mary Shelley itu.

Jadi, begitulah Guillermo del Toro. Di satu sisi, ia dengan tenang bicara tentang merindukan akhir dari segala beban. Di sisi lain, dengan penuh gairah ia menciptakan karya baru yang justru merayakan kompleksitas hidup dan pengampunan. Sebuah kontras yang justru semakin menegaskan posisinya sebagai sineas dengan karakter kuat, yang tak pernah berhenti menggali kedalaman manusia dari sisi paling gelapnya hingga secercah penebusannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler