Pria Pakai Kebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Minta Maaf Usai Tuai Kontroversi

- Jumat, 19 Juni 2026 | 11:50 WIB
Pria Pakai Kebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Minta Maaf Usai Tuai Kontroversi

Penampilan seorang pria bernama Rahadian M Saputra yang mengenakan kebaya hitam lengkap dengan sanggul dalam Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, memicu perdebatan luas di media sosial dan berujung pada permintaan maaf secara terbuka. Peristiwa yang terjadi dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa itu menjadi sorotan karena dianggap menyimpang dari pakem busana adat yang telah ditetapkan.

Polemik bermula ketika Rahadian mengikuti prosesi kirab dengan busana yang identik dengan perempuan, yakni kebaya hitam, kain batik, dan sanggul. Penampilannya langsung mencolok karena berbeda dari peserta laki-laki lain yang pada umumnya mengenakan beskap lengkap dengan kain jarik dan blangkon. Dokumentasi yang beredar di berbagai platform media sosial pun memicu beragam reaksi dari warganet.

Tak berselang lama, kritik keras datang dari sejumlah budayawan dan pemerhati budaya Jawa. Mereka menilai persoalan utama bukan semata-mata pada pilihan pakaian, melainkan pada konteks acara yang merupakan prosesi sakral dengan aturan berpakaian yang ketat. Kirab Malam 1 Suro dikenal sebagai agenda adat yang sarat nilai tradisi dan tata krama di lingkungan Mangkunegaran.

Di tengah derasnya kritik, beredar klaim bahwa Rahadian telah memperoleh izin dari pihak penyelenggara untuk mengenakan kebaya. Pernyataan yang muncul melalui kolom komentar media sosial itu justru memicu perdebatan baru. Sebagian pihak mempertanyakan kebenaran izin tersebut, sementara yang lain menilai bahwa izin tidak serta-merta menghapus persoalan kepatuhan terhadap tata aturan adat yang berlaku.

Rahadian juga sempat menjadi perbincangan setelah melontarkan pernyataan bahwa pakaian tidak memiliki jenis kelamin. Pandangan itu menuai reaksi beragam. Ada yang mendukung sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun tak sedikit yang menilai bahwa penghormatan terhadap nilai budaya dalam acara adat tetap menjadi prioritas utama.

Setelah polemik berlangsung beberapa hari, Rahadian mengaku meluangkan waktu untuk mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat. Ia menyadari bahwa tindakannya menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap nilai budaya dan adat yang dijunjung dalam prosesi tersebut.

Pada akhirnya, Rahadian menyampaikan permintaan maaf melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. "Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu. Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya," ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa tindakannya menunjukkan kurangnya pemahaman dan penghormatan terhadap nilai adat serta budaya. "Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa, dan masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan saya," kata Rahadian.

Selain meminta maaf, ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya di masa mendatang. "Kritik dan saran yang diberikan akan saya jadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya juga berjanji untuk tidak melakukan dan mengulangi hal ini lagi," tuturnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar