Danantara Sebut Pelindo hingga Pegadaian Berpotensi Melantai di BEI

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:50 WIB
Danantara Sebut Pelindo hingga Pegadaian Berpotensi Melantai di BEI

Danantara Indonesia membuka peluang bagi sejumlah BUMN besar untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan pelat merah yang disebut berpotensi melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) antara lain PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dan PT Pegadaian (Persero) yang kini berada di bawah kendali PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN, Dony Oskaria, menilai BUMN dengan kapitalisasi pasar besar dan tata kelola baik layak untuk melantai di pasar modal. "Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus, contohnya ada Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, Angkasa Pura dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti," ujarnya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Dony menjelaskan, pengelolaan BUMN di bawah Danantara akan mengikuti rencana pengembangan lima tahun. Pada tahun pertama, fokusnya adalah konsolidasi dan restrukturisasi melalui penggabungan, akuisisi, hingga likuidasi jika diperlukan. Langkah ini diambil agar pengelolaan perusahaan negara menjadi lebih efisien dan berdampak lebih besar terhadap perekonomian.

Memasuki tahun kedua, tema pengelolaan beralih pada pengembangan sumber daya manusia (people development) dan budaya perusahaan (corporate culture). "Jadi setelah mereka konsolidasi tema keduanya nanti adalah berkaitan dengan people development dan corporate culture," kata Dony. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan karyawan dan membangun budaya baru pasca-merger.

Pada tahun ketiga, Danantara akan mendorong transformasi berbasis inovasi dan teknologi. Implementasi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi menjadi agenda utama untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing BUMN.

Baru pada tahun keempat, Danantara mulai fokus pada penciptaan nilai (value creation). Pada tahap ini, berbagai opsi korporasi akan dievaluasi, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan investor, melepas saham ke publik melalui IPO, atau mempertahankan status perusahaan tertutup. "Nah tahun keempatnya baru kita bicara mengenai value creation. Jadi mana yang akan kita strategic partnership, mana yang akan kita IPO, mana (BUMN) kita tetap tertutup. Nanti kita diskusikan juga dengan Kementerian Keuangan arahannya tentu sebagai milik negara," jelas Dony.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags