Harga minyak mentah mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret pada Jumat (31/7), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengancam pasokan dari Teluk Persia hingga Laut Hitam. Para pelaku pasar tampak bergulat dengan risiko gangguan pasokan yang semakin nyata.
Brent untuk kontrak Oktober naik 1,2 persen menjadi USD 87,93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September menguat 1,3 persen dan ditutup pada level USD 84,67 per barel. Kenaikan ini menjadikan kinerja bulanan terbaik sejak tiga bulan lalu.
Di sisi lain, harga batu bara cenderung stagnan pada penutupan perdagangan Jumat. Berdasarkan data dari Barchart, kontrak ICE Newcastle untuk Juli 2026 turun tipis 0,04 persen menjadi USD 134 per ton.
Harga Komoditas Lain
Sementara itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) justru melemah. Berdasarkan situs tradingeconomics.com, harga CPO turun 0,85 persen menjadi MYR 4.643 per ton.
Harga nikel juga terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Jumat. Mengutip London Metal Exchange (LME), harga nikel turun 0,12 persen menjadi USD 17.249 per ton.
Berbeda dengan nikel, harga timah mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa. Berdasarkan LME, harga timah naik 0,53 persen dan menetap di USD 55.268 per ton.
Artikel Terkait
BRI Danareksa Unggulkan Enam Saham Komoditas Tambang untuk 2026
Harga Minyak Kembali Tembus USD 100 Akibat Serangan Houthi di Laut Merah
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi dalam Enam Pekan, Batu Bara Terkoreksi
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit, Daging Ayam, dan Minyak Goreng Naik