Pendapatan BUMA Internasional Turun 5 Persen, EBITDA Justru Tumbuh 8 Persen

- Senin, 03 Agustus 2026 | 08:18 WIB
Pendapatan BUMA Internasional Turun 5 Persen, EBITDA Justru Tumbuh 8 Persen

PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) membukukan pendapatan sebesar USD 693 juta atau sekitar Rp 12,48 triliun (kurs Rp 18.022 per dolar AS) pada semester I 2026. Perolehan itu terkoreksi 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring berakhirnya sejumlah kontrak pertambangan dan penurunan aktivitas di beberapa lokasi operasi.

Meski pendapatan menurun, emiten jasa pertambangan ini justru mencatatkan peningkatan kinerja operasional. EBITDA pada semester I 2026 tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi USD 69 juta, dari sebelumnya USD 64 juta. Kenaikan tersebut didorong oleh pemulihan margin dan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis.

Total volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) DOID mencapai 186 juta bank cubic meter (MBCM) atau turun 11 persen secara tahunan. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 32 juta ton, turun 16 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai penurunan aktivitas di sejumlah operasi lainnya.

Di luar lokasi tambang yang kontraknya berakhir atau mengalami penurunan aktivitas, operasi inti perseroan justru menunjukkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9 persen secara tahunan, sedangkan produksi batu bara naik sekitar 4 persen, ditopang peningkatan keandalan armada dan kondisi cuaca yang lebih mendukung. Selain itu, rata-rata harga jual (average selling price/ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8 persen dibandingkan semester I 2025, didorong oleh penyesuaian harga dalam kontrak.

Dari sisi profitabilitas, rugi bersih DOID menyusut 37 persen menjadi USD 50 juta, dibandingkan rugi USD 80 juta pada semester I 2025. Perbaikan ini didukung oleh pertumbuhan EBITDA, keuntungan penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi, serta keuntungan selisih kurs. Namun, kinerja tersebut sebagian tertekan oleh dampak investasi perseroan di 29Metals.

Belanja modal (capital expenditure/capex) juga turun signifikan menjadi USD 37 juta dari USD 111 juta pada semester I 2025. Penurunan ini sejalan dengan optimalisasi armada dan pengalihan aset dari lokasi tambang yang telah berhenti beroperasi. Berkat efisiensi tersebut, arus kas bebas (free cash flow) meningkat menjadi USD 39 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan USD 5 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengatakan peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan berbagai langkah efisiensi yang dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil, meski di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar.

“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan,” ujar Iwan.

Ia menambahkan, pada semester II 2026 perseroan akan melanjutkan fokus pada peningkatan kinerja operasional, disiplin belanja modal, serta pengelolaan eksposur harga bahan bakar guna memperkuat arus kas perusahaan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags