Dedi Mulyadi Bakal Pangkas Anak-Cucu BUMD hingga Bentuk Super Holding Sangga Buana

- Rabu, 29 Juli 2026 | 17:30 WIB
Dedi Mulyadi Bakal Pangkas Anak-Cucu BUMD hingga Bentuk Super Holding Sangga Buana

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana memangkas rantai anak perusahaan hingga cicit Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan membentuk holding BUMD bernama Sangga Buana. Langkah ini disebut sebagai hasil pembahasan dengan Presiden Prabowo Subianto.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah mekanisme dana bagi hasil (DBH) migas yang selama ini harus disetor ke BUMD terlebih dahulu sebelum masuk ke kas daerah. Menurut Dedi, praktik ini justru membuka celah inefisiensi dan penyimpangan.

“Saya bilang Pak, ada keanehan di Republik ini. Dana bagi hasil migas, keuntungan dari PT Pertamina diserahkannya harus melalui BUMD. Kenapa tidak langsung ke kas daerah?” ujar Dedi saat groundbreaking PSEL Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Rabu (29/7).

“Bertahun-tahun ke belakang masuk BUMD, oleh BUMD tidak dimasukkan ke kas daerah. Dibikin anak perusahaan dan cucu perusahaan, bahkan cicit perusahaan. Ini saya analisis terjadi, dan kata Pak Presiden akan segera diubah peraturannya,” tambahnya.

Dedi juga mencontohkan inefisiensi pada rencana pembangunan angkutan Trans Jabar yang melibatkan PT Damri. Dalam skema saat ini, Pemda Jabar harus membayar jasa ke BUMD Jasa Sarana, yang kemudian menyalurkannya ke Damri.

“Nanti Pak Ketua DPRD minggu depan yang aneh akan saya rubah lagi, yaitu Pemda Jabar kerja sama dengan PT Damri untuk membuat angkutan Trans Jabar, kemudian Pemda Jabar bayarnya harus ke BUMD Jawa Barat, Jasa Sarana. Jasa Sarana nanti bayar ke Damri,” tutur Dedi.

Menurutnya, Jasa Sarana mendapat dua pemasukan dari proyek tersebut: lima persen dari dana APBD sebesar Rp120 miliar dan biaya operasional dari pemerintah provinsi. “Mulai bulan Agustus saya coret langsung dari Pemda Jabar dengan Damri. Gak ada lagi lewat Jasa Sarana,” tegasnya.

Selain itu, Dedi mengungkapkan praktik percaloan masif di tubuh BUMD yang dinilai merugikan keuangan daerah. “BUMD percaloan sangat luar biasa, ada bertahun-tahun. Ketika saya hitung, keuntungan BUMD ini apa saja, banyak. Kenapa kemana duitnya? Bikin anak perusahaan, cucu perusahaan kerja sama dengan PT A, PT B, PT C. Ratusan miliar uangnya berubah menjadi piutang, bukan masuk ke kas daerah,” ungkapnya.

Untuk meminimalisasi masalah, Dedi menekankan pembentukan super holding Sangga Buana yang akan menyatukan seluruh BUMD di Jawa Barat. “Dan nanti BUMD di Jabar hanya satu. Namanya Sangga Buana. Dia penyangga dunia dan sampai akhirat bila perlu,” tegasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags