Sayangnya, harapan itu belum terlihat di layar monitor para trader pagi itu. IHSG langsung ambruk hanya 17 menit setelah pembukaan. Indeks melorot 5,03 persen ke level 7.910,85. Tekanan jual terjadi di mana-mana; hampir 600 saham tercatat berwarna merah. Kapitalisasi pasar pun menyusut drastis, nyaris menyentuh angka Rp 14.284 triliun.
Sentimen negatifnya masih sama: teguran dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal transparansi dan kepemilikan saham. Belum lagi gelombang pengunduran diri empat petinggi OJK dan Dirut BEI akhir pekan lalu, yang jelas bikin suasana makin mencekam.
Meski sudah ada pengganti dan rencana pertemuan dengan MSCI, pasar seperti belum percaya. Isu tentang rencana masuknya Danantara ke BEI yang diungkap Menko Airlangga pekan lalu juga ikut menambah keruhnya situasi.
Analis pasar modal Wahyu Laksono dari Traderindo melihatnya dengan jelas. “Pasar masih cemas jelang deadline MSCI. Isu ancaman turun kelas IHSG,” katanya.
Ia menambahkan, langkah-langkah pemerintah sejauh ini rupanya belum cukup meyakinkan para investor untuk berbalik arah. Ketakutan masih lebih dominan.
Artikel Terkait
Tiga Provinsi di Sumatera Alami Deflasi Pascabencana, Tapi Biaya Hidup Tetap Meroket
Prabowo Geram pada Kelompok Apa Bisa, Targetkan Kemiskinan Ekstrem Hilang 2029
Prabowo Larang Ekspor Jelantah, Sawit Dijagokan Jadi Tanaman Ajaib untuk Biodiesel dan Avtur
IHSG Terjun Bebas 5,3%, Pasar Modal Indonesia Diguyur Awan Merah