Lalu, bagaimana dengan kedaulatan kebijakan?
Aspek ini sering terlewat. Ketergantungan pada penilaian indeks global kerap dianggap sebagai bentuk dominasi asing. Tapi perspektif ini keliru. Masalah utamanya bukanlah MSCI atau lembaga sejenisnya. Masalahnya adalah ketidaksiapan kita untuk menjadikan transparansi sebagai harga mati. Selama standar global hanya kita tanggapi secara reaktif, pasar domestik akan selalu berada dalam posisi defensif.
Di sisi lain, reaksi sebagian pelaku pasar yang menyederhanakan ini sebagai "kepanikan investor asing" juga berbahaya. Investor jangka panjang yang berpengalaman paham betul. Volatilitas sesaat itu berbeda dengan kerentanan struktural.
Mereka tidak akan terjebak pada naik-turun harian indeks. Yang mereka perhatikan adalah apakah sistem ini masih rasional, adil, dan bisa diprediksi. Kalau prediktabilitas institusional sudah terganggu, bahkan saham bagus sekalipun bisa kehilangan jangkar valuasinya.
Karena itu, respons kebijakan tidak boleh cuma berupa klarifikasi atau perbaikan teknis jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah penyelarasan ulang. Antara kecepatan pasar yang super cepat dan kedalaman institusi yang harus kokoh. Regulator tidak bisa terus bergerak dengan ritme administratif, sementara pasar beroperasi dalam logika real-time. Setiap jeda dalam transparansi akan langsung diisi spekulasi. Setiap ambiguitas aturan akan dimanfaatkan oleh aktor-aktor oportunis.
Secara konkret, Indonesia butuh agenda reformasi yang lebih berani. Pertama, penguatan rezim keterbukaan kepemilikan harus jadi prioritas utama, bukan sekadar kewajiban administratif yang sekadar dicukupi. Kedua, koordinasi antara otoritas pasar, kustodian, dan lembaga pengawas harus menghasilkan satu sumber data yang dipercaya oleh semua pihak. Ketiga, alih-alih cuma menyesuaikan diri, Indonesia justru bisa ambil inisiatif. Memimpin kerangka integritas pasar regional di ASEAN, misalnya. Jadikan transparansi sebagai norma kolektif, bukan beban unilateral.
Tapi di atas semua itu, yang paling mendesak adalah kejelasan arah. Apa sih maunya? Apakah pasar modal Indonesia ingin tumbuh cepat dengan risiko reputasi yang terus berulang, atau memilih tumbuh lebih disiplin dengan fondasi kepercayaan untuk jangka panjang? Sejarah sudah membuktikan. Pasar yang memilih jalan kedua mungkin terlihat lambat di awal. Tapi jauh lebih tahan banting ketika siklus global berbalik arah.
Pada akhirnya, skenario risiko sistemik ini bukan ramalan kiamat. Ini adalah peringatan. Ia mengajak kita belajar dari pola-pola yang sudah terjadi, bukan menunggu peristiwa itu benar-benar datang. Ketahanan pasar tidak diuji ketika indeks sedang naik. Tapi ketika aturan diuji oleh kepentingan. Dan dalam dunia keuangan modern, hanya ada satu aset yang benar-benar tidak bisa direkayasa: kepercayaan. Sekali hilang, ia tidak akan pulih karena imbauan. Hanya disiplin yang konsisten dan pilihan institusional yang berani yang bisa mengembalikannya.
Artikel Terkait
Dari Konter Ponsel ke Rantai Bisnis: Kisah Abdurrohim Membangun 7 Titik Usaha Berawal dari BRILink
Rosan Roeslani Tegaskan Independensi Danantara Meski Bakal Masuk ke Kepemilikan BEI
Danantara Buka Pintu untuk Dana Negara Lain Masuk ke BEI
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% untuk Tarik Investor Global