Detoks Media Sosial Dinilai Bisa Kurangi Gejala Depresi dan Kecemasan

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Detoks Media Sosial Dinilai Bisa Kurangi Gejala Depresi dan Kecemasan

Penggunaan media sosial yang berlebihan kerap dikaitkan dengan munculnya kecemasan dan gejala depresi. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, mengatakan bahwa mereka yang merasa lelah setiap kali membuka platform tersebut bisa memperoleh manfaat dari detoksifikasi media sosial.

"Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan," ungkap dr. Adam dalam unggahan di akun Threads miliknya, Minggu (9/8/2026).

Overstimulasi dan Kelelahan Mental

Media sosial membanjiri pengguna dengan berbagai rangsangan dalam waktu singkat. Dalam hitungan menit, seseorang bisa berpindah dari satu video ke video lain, membaca komentar, melihat foto, menerima notifikasi, hingga mengikuti informasi yang terus diperbarui.

Menurut dr. Adam, kondisi ini dapat memicu overstimulasi yang berkontribusi pada kecemasan dan kelelahan mental. "Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental," jelasnya.

Kebiasaan mengecek media sosial secara berulang, bahkan tanpa notifikasi penting, memperparah kondisi tersebut. Pengguna sering kali merasa terdorong untuk membuka aplikasi hanya demi memastikan tidak ada informasi yang terlewat.

Kebiasaan Membandingkan Diri

Selain durasi, konten yang dikonsumsi juga berperan besar. Media sosial menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, mulai dari pencapaian karier, gaya hidup, hingga momen pribadi. Hal ini dapat memicu kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Jika dibiarkan, perbandingan tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak cukup baik. Tidak jarang muncul pula fenomena FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut tertinggal dari aktivitas atau pembicaraan orang lain.

"Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan FOMO," kata dr. Adam.

Langkah Detoks yang Bisa Dilakukan

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, pengguna dapat mengambil jeda dari media sosial. Durasi detoks yang optimal bervariasi, namun sebagian penelitian menyebutkan periode satu hingga dua minggu.

"Durasi detoks yang optimal bervariasi antarpenelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu," ujarnya.

Detoks tidak harus berarti menghapus seluruh akun. Langkah sederhana seperti mengurangi frekuensi membuka aplikasi, mematikan notifikasi, atau membatasi waktu penggunaan bisa menjadi awal yang baik. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk scrolling sebaiknya dialihkan ke aktivitas di dunia nyata.

"Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat," pungkas dr. Adam.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, pengguna perlu memiliki kendali atas kebiasaan digitalnya agar teknologi tidak menjadi sumber kelelahan mental. Jika gangguan emosional yang dialami menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental menjadi langkah penting.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags