Mengalahkan Rasa Minder di Era Media Sosial

- Senin, 03 Agustus 2026 | 04:06 WIB
Mengalahkan Rasa Minder di Era Media Sosial

Melihat pencapaian orang lain di media sosial sering kali memicu rasa minder. Padahal, yang terlihat hanyalah hasil akhir, bukan perjuangan panjang di baliknya.

Pernahkah Anda membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi setelah menutupnya justru merasa hidup Anda tertinggal? Teman atau bahkan orang lain yang memenangkan lomba, mendapat beasiswa, lulus lebih cepat, atau diterima bekerja sering kali membuat kita bertanya, "Kenapa semua orang sudah berhasil, sementara aku masih di sini?" Padahal, kita hanya melihat hasil akhir, bukan proses panjang yang mereka lalui.

Media sosial diciptakan untuk memudahkan kita terhubung dengan orang lain, berbagi cerita, dan memperoleh informasi. Namun, tanpa disadari, media sosial juga menjadi tempat yang mendorong kita untuk terus membandingkan diri. Semakin sering melihat pencapaian orang lain, semakin mudah kita merasa kurang, meskipun sebenarnya kita juga sedang berkembang.

Masalahnya bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan cara kita menggunakannya. Kita terbiasa melihat kehidupan orang lain melalui layar, lalu tanpa sadar menjadikannya sebagai ukuran keberhasilan diri. Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain sama saja dengan membandingkan dua cerita yang tidak pernah dimulai dari halaman yang sama.

Tidak sedikit mahasiswa yang merasa minder karena melihat teman seusianya sudah memiliki banyak prestasi, aktif dalam organisasi, atau bahkan mulai membangun karier. Perasaan itu wajar. Namun, jika terus dipelihara, kita akan lebih sibuk mengawasi kehidupan orang lain daripada membangun kehidupan kita sendiri.

Menggunakan Media Sosial dengan Sadar

Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengubah kebiasaan menggunakan media sosial. Kita tidak harus berhenti sepenuhnya, tetapi bisa mulai menggunakannya dengan lebih sadar. Misalnya, dengan membatasi waktu bermain, berhenti mengikuti akun yang membuat kita merasa rendah diri, dan lebih menikmati proses belajar daripada mengejar pengakuan orang lain.

Yang terpenting, belajarlah menghargai setiap langkah kecil yang telah dicapai. Tidak semua kemajuan harus terlihat besar. Menyelesaikan tugas tepat waktu, berani mencoba hal baru, atau menjadi lebih percaya diri daripada kemarin juga merupakan bentuk keberhasilan yang patut diapresiasi.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Alat itu bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga bisa menjadi sumber tekanan jika digunakan tanpa kendali. Daripada terus bertanya mengapa hidup orang lain terlihat lebih baik, mungkin sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri, "Apa yang bisa aku lakukan hari ini agar menjadi lebih baik dari kemarin?"

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags