Setiap hari, jutaan orang membuka media sosial untuk melihat unggahan terbaru dari influencer, penyanyi, aktor, atau streamer favorit mereka. Tak sedikit penggemar yang ikut berbahagia saat idolanya meraih penghargaan, merasa sedih atau tersinggung ketika sang idola mendapat kritik, bahkan rela menghabiskan waktu dan uang demi mendukung karier seseorang yang belum pernah mereka temui secara langsung. Fenomena ini, dalam kajian psikologi, disebut sebagai hubungan parasosial atau parasocial relationship.
Menurut Therapy Group of DC, hubungan parasosial adalah fenomena hubungan sepihak di mana seseorang merasa memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap publik figur, seperti selebriti atau influencer, tanpa adanya interaksi secara langsung. Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi salah satu pemicu utama. Melalui platform digital, seorang influencer dapat membagikan aktivitas sehari-hari, pemikiran pribadi, hingga momen emosional, sehingga pengikutnya merasa mengenal mereka secara intim. Meski interaksi tersebut umumnya tidak timbal balik, paparan yang terus-menerus menciptakan ilusi kedekatan dan pertemanan.
Fenomena ini kemudian mendorong terbentuknya komunitas penggemar yang dikenal sebagai fandom. Menurut Wikipedia, fandom adalah subkultur yang terdiri dari para penggemar yang disatukan oleh rasa kebersamaan dengan sesama individu yang memiliki minat yang sama. Para penggemar biasanya tertarik bahkan pada detail-detail kecil terkait objek fandom mereka, serta meluangkan sebagian besar waktu dan energi untuk memenuhi minat tersebut.
Penyebab dan Faktor Pemicu
Pengalaman sosial di masa kecil, seperti interaksi dengan anggota keluarga dan teman, juga berperan penting dalam membentuk cara seseorang bersosialisasi dan menjalin hubungan. Cara membangun kepercayaan, mencari rasa nyaman, dan memenuhi kebutuhan emosional sering kali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman tersebut. Selain itu, pandemi COVID-19 yang lalu memperkuat fenomena ini. Ketika pembatasan sosial diberlakukan dan interaksi tatap muka terbatas, banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di internet dan media sosial. Streamer, influencer, dan kreator konten menjadi sumber hiburan utama. Dengan demikian, hubungan parasosial tidak semata-mata karena pengaruh media, tetapi juga terkait kebutuhan emosional, pengalaman sosial, dan kondisi yang dialami individu.
Dampak Positif dan Negatif
Hubungan parasosial tidak sepenuhnya negatif atau positif. Dalam batas tertentu, fenomena ini dapat memberikan hiburan, sumber inspirasi, dan rasa nyaman. Fandom juga bisa menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang memiliki minat sama untuk membangun pertemanan baru. Namun, hubungan ini berpotensi menimbulkan dampak buruk jika berkembang tidak sehat, seperti mengabaikan kebutuhan diri sendiri, merasa tersakiti saat idola dikritik, dan mulai mengabaikan lingkungan sosial di sekitar.
Menariknya, hubungan parasosial tidak hanya terjadi pada publik figur nyata. Banyak orang juga membangun ikatan emosional yang kuat dengan karakter fiksi dalam film, novel, video game, atau anime. Seseorang bisa merasa sedih ketika karakter favoritnya meninggal, atau menjadikan karakter tersebut sebagai sumber inspirasi. Sebagian penggemar bahkan membayangkan memiliki hubungan sangat dekat dengan karakter favoritnya. Bagi banyak orang, hal itu adalah bentuk hiburan dan ekspresi kreatif yang tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus, keterikatan yang terlalu kuat dapat menyebabkan reaksi emosional yang sangat intens ketika alur cerita tidak sesuai harapan, misalnya saat karakter favorit dipasangkan dengan tokoh lain.
Pada akhirnya, memiliki keterikatan emosional pada publik figur atau karakter fiksi tertentu adalah wajar. Namun, penting untuk menyadari batas antara hiburan dan realitas. Ketertarikan yang berlebihan dapat berdampak kurang sehat bagi diri sendiri maupun hubungan sosial di dunia nyata.
Artikel Terkait
Fenomena Doomscrolling Mengintai Kesehatan Mental dan Fisik
Viral di Media Sosial, Lagu Jawa Populer tapi Maknanya Terabaikan
Healing Bukan Sekadar Liburan, tapi Proses Memulihkan Diri
Pembentukan Identitas: Antara Budaya, Lingkungan, dan Pilihan Pribadi