AI 2026: Dari Asisten Digital ke Agen Otonom yang Bekerja Sendiri

- Rabu, 10 Desember 2025 | 16:18 WIB
AI 2026: Dari Asisten Digital ke Agen Otonom yang Bekerja Sendiri

Perkembangan kecerdasan buatan, atau AI, memang tak terbendung lagi. Kita mungkin sudah akrab dengan ChatGPT atau asisten Meta AI yang bisa bikin teks dan gambar. Tapi, percayalah, ini baru permulaan. Masa depannya bakal jauh lebih otonom dan canggih.

Peter Lydian, Country Director Meta Indonesia, punya pandangan menarik soal tren yang akan membentuk dunia digital kita di tahun 2026. Baginya, AI bukan cuma alat bantu biasa. Ia lebih mirip akselerator yang mempercepat koneksi antar manusia, yang ujung-ujungnya membuka peluang bisnis baru.

"Inti misi Meta itu kan human connection. Koneksi sosial itu penting. Dan kalau orang sudah terkoneksi, secara alami pasti akan muncul bisnis. Semua proses ini akan dipercepat banget oleh kehadiran AI," ujar Peter.

Menurutnya, salah satu pergeseran besar yang akan kita saksikan adalah transisi dari Generative AI menuju apa yang disebut Agentic AI. Kalau yang sekarang kita pakai baru bereaksi saat diperintah, AI di masa depan bisa dikasih tugas jangka panjang dan bekerja mandiri.

"Contohnya, kita bisa minta Agentic AI untuk memantau berita tertentu dan memberi kabar kalau ada perkembangan. Jadi dia bisa mengawasi terus, nggak kayak sekarang yang harus diinstruksi berulang kali," jelasnya.

Kemampuan otomatisasi seperti inilah yang diprediksi bakal membuat Agentic AI cepat diadopsi. Bayangkan, proses yang dulu manual dan berulang, tiba-tiba bisa jalan sendiri.

Di sisi lain, tren spesialisasi AI juga akan makin kentara. Peter menganalogikannya seperti seseorang yang jadi ahli karena mengerjakan hal yang sama terus-menerus. AI pun akan dibangun secara khusus untuk industri tertentu, misalnya perbankan atau layanan pelanggan.

Ia ambil contoh customer service konvensional yang sering bikin kesal. "Kenapa harus cerita ulang kalau telepon putus? Kalau pakai AI, nyambung lagi ya lanjut dari situ. Semakin terindustrialisasi, perkembangannya akan semakin cepat," tambah Peter.

Menjelang 2026, kebiasaan belanja kita juga diprediksi berubah. Pengalaman statis di e-commerce bakal bergeser ke percakapan interaktif lewat Business Messaging. Ini terutama relevan di Indonesia, di mana konsumen lebih suka chat dulu sebelum beli.

"Orang itu suka tanya-tanya. 'Bisa kirim hari ini nggak?' atau 'AC 1 PK cocok nggak buat ruangan gue?'. Jadi, Business Messaging ini bakal sesuatu yang besar di sini," katanya.

Meta melihat integrasi AI ke dalam messaging akan jadi kunci. Mereka punya contoh nyata: chatbot AI yang dipakai OJK untuk tangani laporan penipuan, yang diklaim lima kali lebih efektif ketimbang lewat SMS atau email.

Namun begitu, Peter menekankan, teknologi ini nggak boleh cuma dikuasai segelintir perusahaan besar. AI harus didemokratisasi agar bisa dipakai semua kalangan, termasuk kreator konten dan pelaku UMKM.

Ia bayangkan, AI bisa bantu kreator lokal go internasional lewat fitur sulih suara otomatis ke bahasa asing. Ambil contoh Kili Paul, kreator dari suku Maasai yang punya 10,8 juta pengikut berkat konten lipsync lagu India.

"Kalau barang fisik bisa diekspor, kenapa kreator enggak? Bayangkan, dengan AI, satu konten bisa disulihsuarakan ke berbagai bahasa," ujarnya penuh semangat.

Dari sisi bisnis, angka berbicara sendiri. Data internal Meta menunjukkan, setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan untuk iklan berbasis AI, menghasilkan return rata-rata 3,47 dolar AS.

Fitur seperti Advantage memungkinkan pengiklan serahkan urusan targeting dan variasi materi kreatif ke AI. Melelahkan sekali kalau harus bikin seribu variasi background secara manual. Nah, AI bisa otomatisasi semua itu.

Komitmen Meta jelas: merambah pasar global dengan bantuan teknologi ini.

"Teknologi harus dibuat untuk semua orang, didemokratisasi. Makanya tagline-nya: kalau Bu Broto dari Madiun bisa jualan pecel di Maroko, itu baru namanya sukses. Sesederhana itu," pungkas Peter menutup pembicaraan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler