Noken Jadi Inspirasi, Desainer Papua Dorong Anak Muda Kembangkan Fashion Berbasis Budaya

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Noken Jadi Inspirasi, Desainer Papua Dorong Anak Muda Kembangkan Fashion Berbasis Budaya

Kearifan lokal Papua tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya kreatif dan sumber ekonomi baru. Hal ini terus didorong oleh perancang busana etnik Papua sekaligus pemilik Labewa Fashion Papua, Agusta Bunai.

Agusta memilih fashion sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua melalui pemanfaatan bahan alam, seperti serat kayu, anggrek kuning, serta teknik anyaman dan rajutan noken. Menurutnya, perkembangan fashion etnik Papua tidak hanya tentang pakaian, tetapi juga menyangkut keberlangsungan tradisi dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama para perajin dan mama-mama Papua.

“Potensi karya dari kearifan lokal seperti anyaman noken sangat tinggi. Sejak fokus dari tahun 2016, permintaan busana etnik terus meningkat untuk berbagai acara resmi, pernikahan, hingga peringatan 17 Agustus,” ujar Agusta saat ditemui wartawan dalam event Imaji Papua di Jayapura, baru-baru ini.

Dalam ajang tersebut, Agusta menampilkan 11 busana bertema “Noken Merajut Papua”. Koleksi itu menggabungkan unsur budaya dari wilayah adat La Pago dan Me Pago dalam desain fashion yang lebih modern. Ia menilai kehadiran ruang seperti Imaji Papua penting bagi para pelaku ekonomi kreatif lokal. Selain menjadi tempat memperkenalkan karya, kegiatan semacam itu juga memberikan kesempatan bagi desainer Papua untuk berkolaborasi, memperluas jaringan, dan meningkatkan pengalaman.

Agusta juga menaruh perhatian besar terhadap keberadaan noken yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Menurut dia, pengakuan tersebut harus diikuti dengan upaya nyata untuk menjaga tradisi pembuatan noken agar tetap hidup di tengah generasi muda.

“Noken harus selalu diproduksi. Generasi muda harus tetap beraktivitas menghasilkan noken. Jika tidak, status tersebut bisa ditinjau ulang,” katanya.

Untuk memastikan regenerasi perajin tetap berjalan, Agusta secara rutin menggelar pelatihan bagi anak-anak muda melalui berbagai workshop, salah satunya program “Sa Pu Karya”. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajarkan teknik merajut sekaligus mengenal pemanfaatan bahan-bahan alam sebagai bagian dari karya kreatif.

Tak berhenti pada pelatihan, Agusta juga memiliki rencana mengembangkan perkebunan tanaman serat alam dan pewarna alami. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan potensi alam secara berkelanjutan.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Karya busana berbahan serat kayu dan menggunakan pewarna alami yang dikembangkan Labewa Fashion Papua telah menembus pasar internasional dan digunakan dalam sejumlah ajang kontes kecantikan di luar negeri, termasuk Amerika Serikat, Thailand, dan Filipina. Bagi Agusta, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa karya yang berangkat dari budaya Papua mampu memiliki nilai ekonomi dan diterima di pasar yang lebih luas.

Karena itu, ia mengajak generasi muda Papua untuk tidak hanya melihat profesi sebagai pegawai negeri sipil sebagai satu-satunya pilihan masa depan. Potensi alam, budaya, dan keterampilan lokal, menurutnya, dapat diolah menjadi usaha kreatif yang mampu memberikan penghasilan sekaligus menjaga identitas Papua.

“Anak-anak muda harus mulai melihat apa yang ada di sekitar mereka sebagai peluang. Dari budaya dan alam Papua, kita bisa menciptakan karya yang memiliki nilai ekonomi dan bisa dibawa sampai ke pasar dunia,” pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags