Tiga Gunung Erupsi Hampir Bersamaan, PVMBG Pastikan Tidak Saling Terkait

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:18 WIB
Tiga Gunung Erupsi Hampir Bersamaan, PVMBG Pastikan Tidak Saling Terkait

Tiga gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan pada Selasa (18/8) malam. Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara dilaporkan memuntahkan material vulkanik secara beruntun.

Ketua Tim Kerja Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Heruningtyas Desi Purnamasari, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah rangkaian peristiwa yang saling memicu. Menurutnya, setiap gunung api memiliki sistem magmatik, hidrotermal, dan dinamika tekanan bawah permukaan yang berbeda serta relatif independen.

"Erupsi terjadi ketika kondisi internal pada masing-masing sistem gunung api memungkinkan terjadinya pelepasan energi, gas, dan/atau material vulkanik ke permukaan. Oleh karena itu, kesamaan waktu erupsi lebih tepat dipandang sebagai kejadian yang berlangsung pada masing-masing sistem gunung api, bukan sebagai satu rangkaian proses vulkanik yang saling berhubungan," ujar Heruningtyas kepada kumparan, Rabu (19/8).

Heruningtyas menjelaskan, letak geografis Indonesia yang berada di jalur tektonik aktif dengan puluhan gunung api aktif membuat potensi erupsi bersamaan dimungkinkan terjadi secara statistik. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak berasumsi bahwa seluruh gunung api di Indonesia sedang mengalami peningkatan aktivitas secara massal.

"Yang paling penting, masyarakat tidak perlu mengaitkan kejadian tersebut sebagai tanda bahwa seluruh gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas secara bersamaan," ucapnya.

Dalam penilaian risiko, PVMBG menekankan pentingnya memahami parameter bahaya spesifik pada tiap gunung api. Karakteristik letusan, tinggi dan arah sebaran kolom abu, potensi lontaran material pijar, guguran awan panas, serta risiko lahar hujan menjadi poin utama dalam pemantauan.

"Abu vulkanik juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu penerbangan apabila sebarannya mencapai jalur penerbangan atau kawasan bandara. Dalam evaluasi PVMBG, bahaya abu terhadap pernapasan, potensi lahar hujan, dan kemungkinan gangguan penerbangan menjadi bagian dari parameter yang perlu diwaspadai," jelasnya.

Saat ini, PVMBG terus melakukan pemantauan secara visual maupun melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di masing-masing lokasi. Tingkat aktivitas serta rekomendasi batas jarak aman ditentukan secara mandiri berdasarkan hasil analisis data tiap gunung.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan mengikuti rekomendasi resmi PVMBG sesuai tingkat aktivitas serta zona bahaya masing-masing gunung api. Perkembangan aktivitas dan rekomendasi resmi dapat dipantau melalui MAGMA Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi/PVMBG," katanya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags