Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam situasi hukum rimba. Pesan itu disampaikan saat ia menghadiri pembukaan Pameran Lukisan SBY Art Community (SAC) 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (18/8).
Dalam sambutannya, AHY mengaitkan pesan tersebut dengan salah satu karya kolaborasi yang dipamerkan dalam acara bertajuk Art for Peace and a Better Future: Collaboration. Lukisan berjudul "Law of the Jungle" berukuran 2,7 meter x 7 meter itu dibuat bersama oleh para seniman SAC. AHY menyoroti kalimat yang tertulis di dalam lukisan: The strong do what they can, the weak suffer what they must.
"Itu kata-kata dari Thucydides, mengingatkan kita jangan sampai kita menjadi yang dikorbankan dalam sebuah gejolak," ujarnya. Menurut AHY, Indonesia memang harus menjadi negara yang kuat, tetapi kekuatan itu tidak boleh digunakan untuk melanggar aturan maupun norma yang telah disepakati.
"Kita harus menjadi kuat, tapi tidak boleh melabrak aturan, melanggar sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi norma, pranata, termasuk hukum internasional, termasuk hukum perang dan humaniter, termasuk Konvensi Jenewa," tegasnya.
Ia juga menyoroti visual dalam lukisan yang menggambarkan sejumlah binatang buas, seperti singa, harimau, serigala, dan burung bangkai. "Jangan sampai hukum rimba berlaku di Indonesia," kata AHY. Menurutnya, politik di Indonesia boleh berlangsung keras dan penuh perbedaan, tetapi tidak boleh berkembang menjadi praktik yang mengabaikan aturan. "Politik keras, tapi tidak boleh menjadi hukum rimba," tegasnya.
AHY berharap Indonesia tetap menjadi negara yang menjunjung perdamaian sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. "Indonesia harus makin maju karena diisi oleh kita-kita yang sekali lagi mencintai perdamaian dan punya kepedulian untuk bumi dan lingkungan hidup kita yang semakin lestari ke depan," katanya.
Kata Pramono
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang membuka pameran tersebut turut memberikan perhatian terhadap karya kolaborasi itu. Pramono mengaku sempat merasa terharu ketika melihat karya para seniman SAC. Menurutnya, lukisan tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan membawa pesan besar.
"Saya terus terang pada waktu tadi Pak SBY menjelaskan tentang lukisan kolaborasi, sebenarnya saya agak meneteskan air mata. Bukan apa-apa, itu adalah karya besar, pesan besar untuk dunia, dan yang menyampaikan adalah orang besar, Pak SBY," kata Pramono.
Pramono juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan SBY mengumpulkan para seniman dengan karakter dan latar belakang berbeda dalam satu wadah. Menurutnya, hal tersebut bukan perkara mudah karena masing-masing seniman memiliki prinsip, keinginan, hingga ego masing-masing.
Artikel Terkait
Pramono Lantik Tujuh Pejabat Baru, Tegaskan Pentingnya Percepatan Keputusan
Pramono Lantik Tujuh Pejabat Eselon II, Tekankan Kerja Sesuai Payung Hukum
Pemprov DKI Gunakan Dana KLB untuk Perbaikan Sekolah Rusak, Mulai September 2026
Pramono Ajak Kolaborasi Lintas Partai untuk Bangun Jakarta