Mantan Mufti Ukraina: Jihad Bukan Kekerasan, tapi Perlindungan Kaum Lemah

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Mantan Mufti Ukraina: Jihad Bukan Kekerasan, tapi Perlindungan Kaum Lemah

Di tengah gempuran perang di Ukraina, seorang mantan pemimpin Muslim tertinggi memilih turun ke medan tempur. Syekh Said Ismagilov, yang pernah menjabat sebagai Mufti Ukraina, kini memimpin unit pertahanan udara di garis depan Kharkiv. Dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis The Baltic Sentinel, Anastasiya Tido, pada 4 Mei 2026, ia menceritakan pengalamannya menyelamatkan korban luka di bawah tembakan sambil tetap memberikan bimbingan rohani.

Ismagilov adalah sosok langka dalam peta kepemimpinan Islam kontemporer. Ia menukar jabatan keagamaan tertinggi dengan rompi antipeluru. Pengalamannya yang melintasi batas dari ruang kelas Islam di Moskow hingga parit pertempuran memberinya perspektif unik tentang bagaimana umat Islam memahami geopolitik, merespons propaganda, dan memaknai jihad di dunia yang terpolarisasi.

Jihad sebagai Perjuangan Moral

Salah satu kontribusi paling berharga dari Ismagilov adalah pembacaan ulang terhadap konsep jihad. Baginya, jihad adalah usaha moral serta perjuangan untuk kebenaran pribadi, kebaikan, dan perlindungan terhadap kaum lemah. Elemen bersenjata hanya diperbolehkan sebagai respons terhadap agresi dan penjajahan, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad saw ketika menghadapi serangan musuh.

Dalam kerangka itu, keterlibatan umat Muslim Ukraina melawan invasi Rusia bukanlah tindakan ekstremisme, melainkan pemenuhan kewajiban defensif yang sah secara teologis. Ini adalah tafsir jihad yang kontekstual dan adaptif, jauh dari narasi kekerasan absolut yang diklaim oleh kelompok-kelompok radikal.

Kekecewaan pada Dunia Muslim

Namun, pandangan Ismagilov tentang dunia Muslim global justru menunjukkan kekecewaan mendalam. Ia menyoroti negara-negara Global Selatan, termasuk mayoritas negara Muslim, yang cenderung bersimpati atau bersikap netral terhadap Rusia. Narasi propaganda Rusia memanfaatkan trauma kolonial dengan menggambarkan diri sebagai pejuang melawan penjajah Barat. Narasi tersebut berhasil menembus kesadaran publik Muslim global.

Ismagilov mengakui keunggulan taktis Moskow dalam membangun saluran informasi sejak lama. Sementara itu, Ukraina tidak memiliki kapasitas media yang serupa. Ini adalah pengakuan pahit bahwa perang informasi sering dimenangkan oleh pihak yang paham psikologi audiens, bukan oleh mereka yang memegang kebenaran objektif.

Satu hal yang lebih mengganggu baginya adalah temuan tentang para tawanan perang Muslim dari pihak Rusia. Para tawanan dari Tatar, Dagestan, dan wilayah lain mengaku bertempur semata-mata demi uang tanpa ideologi atau penyesalan. Temuan ini membongkar mitos bahwa konflik Ukraina-Rusia adalah perang peradaban atau jihad agama. Sebaliknya, ini adalah perang ekonomi yang membajak tubuh-tubuh miskin dari wilayah pinggiran kekaisaran.

Ismagilov melihat ironi bahwa pihak yang terjebak dalam propaganda Rusia adalah keturunan bangsa-bangsa yang pernah dijajah kekaisaran tersebut. Kegagalan membangun kesadaran sejarah di kalangan Muslim pasca-Soviet menjadi salah satu akar keterpecahan politik dunia Islam saat ini.

Kritik terhadap ISIS dan Radikalisme

Ismagilov juga menawarkan kritik tajam terhadap ISIS dan kelompok radikal lainnya. Ia menegaskan bahwa ISIS bukanlah gerakan agama yang ideologis, melainkan kelompok bandit bersenjata. Fakta bahwa ISIS tidak memiliki persenjataan berat dan tidak menjalankan syariat mengindikasikan adanya kepentingan geopolitik besar. Gerakan tersebut bahkan didanai oleh penjualan minyak kepada pihak-pihak yang tidak jelas.

Pernyataan kontroversialnya bahwa "Rusia lebih buruk dari ISIS" menggambarkan ancaman nyata dari negara adikuasa. Negara dengan kapasitas nuklir dan rekam jejak genosida dinilai jauh lebih berbahaya daripada gerakan teroris lokal.

Ismagilov juga membedakan radikalisme Sunni (ISIS) dan teokrasi Syiah (Iran) dengan cermat. Iran adalah negara terstruktur dengan kendali penuh atas gerakan keagamaan. Sejak revolusi 1979, Iran dinilai gagal memperluas model Syiah ke dunia Sunni. Namun, negara tersebut tetap menjadi ancaman melalui investasi pada kelompok minoritas di Lebanon (Hizbullah) dan Yaman (Houthi). Baginya, dinamika Timur Tengah tidak bisa disederhanakan menjadi satu varian radikalisme semata. Setiap kekuatan memiliki logika geopolitik serta teologis yang berbeda di tengah fase transisi dunia Islam.

Integrasi Muslim Eropa Timur

Ismagilov menyoroti perbedaan mendasar antara komunitas Muslim di Eropa Timur dan Eropa Barat. Muslim Ukraina, Bulgaria, atau Balkan terintegrasi dalam masyarakat sekuler tanpa membentuk wilayah terisolasi (ghetto). Sebaliknya, komunitas migran di Prancis atau Inggris hidup dalam enklaf terisolasi. Kondisi tersebut melanggengkan kemiskinan, kriminalitas, dan potensi radikalisme.

Ia menyarankan agar politisi Eropa belajar dari model Eropa Timur. Model ini memungkinkan Muslim menjadi bagian dari masyarakat tanpa kehilangan identitas keislaman mereka. Ini adalah pesan penting bagi dunia Islam secara global bahwa integrasi bukanlah pengkhianatan identitas, melainkan syarat utama untuk menghindari jebakan ekstremisme.

Solidaritas untuk Palestina

Ia juga menunjukkan kepedulian terhadap isu Palestina melalui pernyataan resmi dan tindakan nyata. Administrasi Keagamaan Muslim Ukraina "Ummah" yang dipimpinnya mengeluarkan pernyataan resmi mengenai peristiwa di Palestina. Umat Muslim Ukraina secara konsisten mendoakan para korban di Palestina. Dalam sebuah wawancara, Ismagilov menyebutkan bahwa komunitasnya mencakup para pengungsi yang melarikan diri dari Gaza.

Ia secara terbuka mengecam kekerasan Israel di Masjid Al-Aqsa dan menegaskan Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina sesuai hukum internasional. Tindakan okupasi Israel di wilayah tersebut dinilai ilegal. Sikap ini konsisten dengan pandangannya bahwa konflik di mana pun memerlukan solidaritas kemanusiaan. Hal ini mencerminkan komitmennya terhadap hak-hak rakyat Palestina di tengah pengabdiannya membela Ukraina.

Masa depan Islam kontemporer sangat ditentukan oleh kemampuan komunitas Muslim untuk membangun kehidupan yang bermartabat dan berpendidikan. Pandangan Ismagilov patut menjadi bahan renungan bagi suara umat Islam global saat ini.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags