Pakta Pertahanan Makkah: Apa Tujuan Sebenarnya di Balik Aliansi Turki, Pakistan, dan Arab Saudi?

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Pakta Pertahanan Makkah: Apa Tujuan Sebenarnya di Balik Aliansi Turki, Pakistan, dan Arab Saudi?

Turki, Pakistan, dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bersejarah pada Jumat (7/8) lalu di Makkah. Perjanjian yang disebut Perjanjian Pertahanan Makkah itu diteken langsung oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Ketiga negara yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni ini sepakat untuk memperkuat pencegahan kolektif terhadap segala bentuk agresi di tengah ketidakpastian regional dan ancaman perang dengan Iran.

Meski kerap dibandingkan dengan NATO, para ahli menilai perjanjian ini kemungkinan besar tidak akan berjalan seperti aliansi militer tradisional. Pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan bahwa serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota pun diragukan akan benar-benar diterapkan. Contohnya, saat kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada akhir pekan lalu, Turki dan Pakistan tidak otomatis membela Arab Saudi. Iran memandang Arab Saudi sebagai sekutu AS, terutama setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran di akhir Februari. Namun, para analis menilai Turki dan Pakistan tidak akan menyerang Iran, sekutu Houthi. Pakistan bahkan masih berperan sebagai mediator antara Iran dan AS.

Perjanjian yang fleksibel

Menurut Dania Thafer, direktur eksekutif lembaga think tank Gulf International Forum (GIF) yang berbasis di Washington, perjanjian ini lebih merupakan upaya pencegahan dan bersifat fleksibel. "Jika Anda melihat pihak-pihak yang terlibat, ada Arab Saudi yang berada di tengah konflik, tetapi ada juga Turki dan Pakistan yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan AS. Jadi, ini adalah 'lapisan pencegah' tambahan bagi Arab Saudi," jelas Thafer. Ia menambahkan bahwa Arab Saudi sedang mempertimbangkan pencegahan berlapis terhadap ancaman regional yang muncul.

Kamran Bokhari, peneliti senior di Middle East Policy Council di Washington, menilai aliansi ini akan berjalan bertahap dengan tujuan jangka pendek untuk menjaga stabilitas kawasan.

Transfer teknologi dan investasi

Para pakar lain menyoroti tujuan jangka panjang yang lebih fokus pada kerja sama pertahanan daripada pertempuran langsung. Andreas Krieg, dosen keamanan di King's College London, mengatakan ketiga negara saling melengkapi. Arab Saudi memiliki kekayaan minyak namun teknologi pertahanannya terbatas dan masih bergantung pada AS. Turki dan Pakistan membutuhkan investasi, tetapi memiliki angkatan bersenjata kuat. Turki unggul dalam industri pertahanan, sementara Pakistan adalah satu-satunya negara di antara ketiganya yang memiliki senjata nuklir.

"Turki memiliki teknologi dan kapasitas produksi, tetapi membutuhkan pasar dan investasi. Pakistan memiliki tenaga kerja, institusi militer, dan pencegah nuklir, tetapi membutuhkan pembiayaan dan kemampuan industri," kata Krieg kepada AFP.

Siapa sasaran Pakta Makkah?

Seorang pejabat Turki yang dikutip Reuters mengatakan perjanjian ini bersifat murni pertahanan dan terbuka bagi negara tetangga yang ingin bergabung. Mesir disebut sebagai mitra potensial, namun harus mempertimbangkan sekutu lainnya, termasuk Uni Emirat Arab yang masih bersitegang dengan Arab Saudi. Pejabat itu juga menegaskan pakta ini tidak menggantikan perjanjian bilateral atau multilateral sebelumnya dan tidak ditujukan untuk mengancam pihak tertentu.

Meski demikian, banyak pihak memahami pakta ini sebagai upaya pencegahan, terutama terhadap Iran dan Israel. Khalid al-Jaber, direktur Middle East Council on Global Affairs di Doha, menulis dalam kolom opini di Al Jazeera bahwa tujuan perjanjian ini bukan untuk meraih kemenangan militer, melainkan mencegah hegemoni. "Berkurangnya pengaruh Amerika dapat membuat kawasan ini berada dalam tatanan yang ditetapkan oleh dua pihak: Israel dan Iran. Pakta Makkah paling tepat dipahami sebagai upaya awal untuk membangun poros ketiga, sebuah blok yang tidak perlu melawan salah satu dari kedua kekuatan tersebut, tetapi memiliki pengaruh yang cukup untuk mencegah salah satu dari keduanya memonopoli kawasan," tulisnya.

Respons Israel

Pakistan dan Arab Saudi tidak mengakui Israel dan tidak memiliki hubungan bilateral resmi, meski Arab Saudi mungkin memiliki hubungan rahasia. Turki mengakui kedaulatan Israel, namun hubungan keduanya memburuk akibat tindakan Israel di Gaza yang disebut Turki sebagai genosida. Erdogan pekan lalu juga menyatakan tindakan Israel di Suriah dan Lebanon merupakan ancaman bagi keamanan Turki.

Oshrit Birvadker, peneliti di Jerusalem Institute for Strategy and Security, menulis di media Israel Hayom bahwa pakta ini menimbulkan tantangan signifikan bagi Israel, menjauhkan prospek normalisasi dengan Riyadh, dan memupus visi 'Timur Tengah baru'. Ia juga meyakini aliansi ini akan memperparah persaingan antara Turki dan Israel.

Reaksi di Iran

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tampak tidak terlalu terganggu. Di platform X, ia menulis, "Ketika umat Muslim bersatu, kita dapat menghadapi setiap tantangan dari pihak luar yang berniat jahat." Para pengamat menilai ini sebagai hal positif, sebagian karena Iran ingin mengusir AS dari kawasan. Namun, beberapa politisi Iran kritis dan menilai Arab Saudi tidak merasa aman dengan AS, Turki, maupun Pakistan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags