Amran Sulaiman Cerita Bangkrut Usaha Singkong hingga Raup Royalti Rp250 Miliar per Tahun

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Amran Sulaiman Cerita Bangkrut Usaha Singkong hingga Raup Royalti Rp250 Miliar per Tahun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membagikan kisah pahit manisnya merintis usaha di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Hasanuddin pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di GOR JK Arenatorium, Makassar, Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam orasi motivasinya, ia menekankan pentingnya mental baja, inovasi, dan keberanian menghadapi kegagalan sebagai bekal bagi generasi muda yang ingin sukses di dunia usaha maupun kepemimpinan.

Amran mengawali ceritanya dari fase awal bisnisnya sebagai penyuplai ubi atau singkong untuk sebuah pabrik tapioka di Kabupaten Enrekang. Usaha itu semula berjalan baik, namun masalah besar datang ketika ia mengirim 10 truk ubi ke pabrik tersebut. Pabrik mendadak rusak dan berhenti beroperasi sekitar satu pekan, sehingga seluruh muatan singkong yang dibawanya berubah hitam dan membusuk.

Kerugian itu terasa makin berat karena pada saat bersamaan ia masih berstatus pengantin baru, dan modal usahanya berasal dari emas milik sang istri yang telah dijual. "Tiba-tiba rugi, saya malu pulang. Saya pulang tengah malam supaya istri sudah tidur dan tidak melihat saya, tidak tanya-tanya. Lalu, saya berangkatnya subuh lagi," kenang Amran.

Kisah itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses yang harus dilalui siapa pun yang ingin berhasil. "Jadi pengusaha harus mau rugi. Rugi adalah fondasi kesuksesan, vitamin, atau dopingnya sukses, rugi 10-15 tahun. Kalau ada pengusaha muda, saya doakan rugi bertubi-tubi," tegasnya.

Dari Kantor Beratap Alang-alang ke Royalti Tiran

Dalam kesempatan itu, Amran juga memperlihatkan visualisasi kantor pertamanya yang masih beratapkan alang-alang, tempat ia merintis formula racun tikus Tiran. Ia mengatakan perjalanan membangun Tiran jauh dari kata instan karena membutuhkan waktu 13 tahun sampai produk itu benar-benar menembus pasar. Menurut dia, hasil besar yang dinikmati sekarang lahir dari proses panjang yang dipenuhi tekanan, kerugian, dan ketekunan.

"Yang sulit terkadang yang dipelajari di kampus adalah untungnya saja, ruginya tidak. Ruginya dipelajari pada saat di lapangan. Saya membangun racun tikus Tiran butuh waktu 13 tahun baru tembus," ujar Amran. Ia melanjutkan bahwa setelah produk itu berhasil diterima luas, hasilnya terus dinikmati hingga sekarang. "Begitu tembus, sampai hari ini hasilnya dinikmati. Royaltinya mencapai Rp250 miliar per tahun. Padahal waktu itu saya masih ABG," lanjutnya.

Amran juga menyebut dalam perjalanan usahanya ia sempat menghadapi ujian lain, mulai dari rumah yang terbakar hingga bangkrut saat berjualan ikan. Di akhir orasinya, ia mengingatkan mahasiswa baru Unhas agar tidak bermental lemah, berani merintis usaha sejak muda, dan siap bekerja keras pada fase awal kehidupan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags