Detoks Media Sosial: Tiga Aktivitas yang Bisa Membantu Memulihkan Kesehatan Mental

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 05:30 WIB
Detoks Media Sosial: Tiga Aktivitas yang Bisa Membantu Memulihkan Kesehatan Mental

Mengurangi penggunaan media sosial bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar menggulir layar, memeriksa notifikasi, atau mengikuti kabar terbaru. Namun, proses detoksifikasi digital ini bisa berjalan lebih optimal jika diimbangi dengan aktivitas lain yang bermanfaat, seperti berolahraga, berinteraksi langsung dengan orang lain, dan memberikan waktu istirahat yang cukup bagi tubuh dan pikiran.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa mengurangi paparan media sosial memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari berbagai rangsangan digital yang berlebihan. Menurutnya, penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat memicu overstimulasi, yang pada akhirnya berujung pada kecemasan dan kelelahan mental.

"Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antar penelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu," ujar dr. Adam, Senin (10/8/2026).

Detoks media sosial tidak hanya berarti berhenti membuka aplikasi. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk scrolling perlu dialihkan ke kegiatan lain agar kebiasaan lama tidak kembali. dr. Adam menyarankan beberapa aktivitas offline yang bisa dilakukan selama masa pengurangan penggunaan media sosial.

Olahraga sebagai Pengganti Scrolling

Olahraga menjadi salah satu pilihan untuk mengisi waktu yang sebelumnya digunakan untuk bermain media sosial. Aktivitas fisik ini tidak hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga membantu seseorang memiliki rutinitas yang terstruktur. Dengan berolahraga, waktu yang biasanya dihabiskan di depan layar dapat digantikan dengan kegiatan yang lebih produktif dan menyehatkan.

Interaksi Tatap Muka

Menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau orang-orang terdekat juga menjadi alternatif yang baik selama menjalani detoks. Interaksi langsung memberikan kesempatan untuk berkomunikasi tanpa perantara layar, sehingga mengurangi ketergantungan pada interaksi virtual. Hal ini juga membantu seseorang untuk tidak terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang sering ditampilkan di media sosial.

Istirahat yang Cukup

Memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat merupakan bagian penting dalam proses detoks. Mengurangi paparan notifikasi dan aktivitas digital memberikan ruang untuk menjalani hari tanpa terus-menerus memeriksa ponsel. Dengan begitu, pikiran dapat lebih tenang dan fokus.

"Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat," kata dr. Adam.

Menurut dr. Adam, tujuan utama detoks media sosial bukan sekadar mengurangi durasi penggunaan aplikasi, tetapi juga mengurangi kebiasaan melihat notifikasi terus-menerus, membandingkan diri dengan orang lain, serta menurunkan rasa takut ketinggalan atau FOMO (fear of missing out).

"Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out)," ucapnya.

Bagi mereka yang mulai merasa lelah setiap kali membuka media sosial, mengambil jeda bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali kebiasaan digital. Dengan mengisi waktu menggunakan aktivitas offline, proses detoks diharapkan tidak hanya menjadi upaya berhenti scrolling, tetapi juga membangun pola hidup yang lebih seimbang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags