Dari Baghdad ke Oxford: Jejak Peradaban Islam dalam Tradisi Akademik Inggris

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Dari Baghdad ke Oxford: Jejak Peradaban Islam dalam Tradisi Akademik Inggris

Siang itu, azan Jumat berkumandang dari London Central Mosque, tak jauh dari Regent's Park. Arus manusia datang dari berbagai penjuru. Wajah-wajah Asia, Afrika, Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika berbaur dalam satu saf. Seorang profesor membawa tas kerja, sopir bus masih mengenakan seragam, mahasiswa berjalan berdampingan dengan diplomat, sementara wisatawan ikut menyaksikan suasana yang khusyuk. Masjid dipenuhi banyak jamaah lintas etnis dan bangsa.

Pemandangan tersebut menghadirkan satu kesan kuat: Islam bukan lagi sekadar bagian dari sejarah Inggris, melainkan telah menjadi salah satu unsur yang ikut membentuk wajah sosial, intelektual, dan demokrasi modern negeri itu. Di balik suasana ibadah tersebut, tersimpan kisah panjang tentang kontribusi ilmu pengetahuan Islam terhadap lahirnya tradisi akademik Barat yang hingga kini masih terasa jejaknya.

Warisan Ilmu Islam dalam Fondasi Akademik Barat

Ketika Eropa mengalami masa yang sering disebut sebagai Dark Ages, dunia Islam justru memasuki masa keemasan ilmu pengetahuan antara abad ke-8 hingga ke-13. Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordoba, dan Sevilla berkembang menjadi pusat riset dunia. Di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), ribuan manuskrip Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu dikembangkan menjadi teori-teori baru dalam matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, optika, hingga kimia.

Banyak istilah ilmiah yang masih digunakan hingga sekarang berasal dari bahasa Arab, seperti algebra dari al-jabr, algorithm dari nama ilmuwan Al-Khawarizmi, zenith, nadir, hingga azimuth. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa dunia Islam bukan sekadar penjaga ilmu klasik, melainkan juga pencipta pengetahuan baru.

Sejarawan sains George Saliba melalui teorinya mengenai continuity of scientific development menjelaskan bahwa kebangkitan sains Eropa tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan kelanjutan dari inovasi ilmiah yang berkembang di dunia Islam. Menurutnya, banyak metode astronomi, matematika, dan observasi ilmiah Eropa dibangun di atas fondasi ilmuwan Muslim.

Pandangan serupa dikemukakan oleh Prof. Jonathan Lyons, penulis The House of Wisdom, yang menegaskan bahwa peradaban Barat modern tidak mungkin dipahami secara utuh tanpa mengakui besarnya kontribusi intelektual Islam terhadap lahirnya Renaissance.

Dari Andalusia Menuju Oxford dan Tradisi Keilmuan Inggris

Pengaruh tersebut kemudian menyebar ke Eropa melalui Andalusia, Sisilia, dan jaringan perdagangan Mediterania. Pada abad ke-12, gerakan besar penerjemahan karya-karya ilmuwan Muslim ke dalam bahasa Latin berlangsung di Toledo dan kota-kota lain di Spanyol. Manuskrip karya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Al-Battani, Al-Razi, hingga Al-Khawarizmi menjadi bahan pembelajaran di universitas-universitas Eropa.

Tradisi akademik yang kemudian berkembang di Inggris, termasuk di Universitas Oxford dan Cambridge, turut diperkaya oleh arus intelektual tersebut. Selama berabad-abad, karya Ibnu Sina (Avicenna) menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di berbagai universitas Eropa. Sementara komentar filsafat Ibnu Rusyd (Averroes) memberi pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat skolastik yang menjadi fondasi pemikiran akademik Barat.

Hubungan tersebut bukan berarti Oxford didirikan oleh ilmuwan Muslim, melainkan menunjukkan adanya kesinambungan transmisi ilmu pengetahuan lintas peradaban. Sejarah memperlihatkan bahwa kemajuan lahir melalui dialog intelektual, bukan melalui isolasi budaya.

Inggris Modern: Islam sebagai Bagian dari Kehidupan Publik

Jejak kontribusi Islam di Inggris kini tidak hanya terlihat dalam perpustakaan, tetapi juga dalam ruang publik. Berdasarkan sensus Inggris dan Wales tahun 2021, jumlah penduduk Muslim telah mencapai sekitar 3,9 juta jiwa, atau sekitar 6,5 persen dari populasi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang etnis, profesi, dan generasi.

Representasi tersebut juga tampak dalam kepemimpinan politik lokal. Sadiq Khan mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama London dan menjadi satu-satunya yang berhasil memenangkan pemilihan sebanyak tiga kali berturut-turut. Selain itu terdapat tokoh seperti Roch Aquilina, Magid Magid, serta sejumlah wali kota Muslim lain di berbagai kota seperti Blackburn, Luton, Oxford, dan Newham yang mencerminkan semakin terbukanya ruang demokrasi Inggris bagi seluruh warga negara tanpa memandang agama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam pemerintahan demokratis. Yang dinilai adalah kapasitas, integritas, dan kepercayaan publik.

Di sisi lain, lebih dari 1.800 masjid berdiri di seluruh Inggris. Banyak di antaranya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, dialog lintas agama, layanan sosial, hingga kegiatan kemanusiaan. London Central Mosque merupakan salah satu simbol bagaimana kehidupan keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat multikultural.

Pelajaran bagi Masa Depan Peradaban

Perjalanan sejarah dari perpustakaan Baghdad menuju ruang kuliah Oxford, lalu berlanjut hingga saf-saf Jumat di London Central Mosque, memberikan pelajaran penting bahwa peradaban besar lahir dari keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan.

Sejarawan Arnold J. Toynbee melalui teori challenge and response menjelaskan bahwa kemajuan suatu peradaban bergantung pada kemampuannya merespons tantangan melalui kreativitas, inovasi, dan pembelajaran dari peradaban lain. Inggris menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi ilmiah mampu tumbuh melalui proses saling belajar lintas budaya dan agama.

Dalam konteks global yang masih diwarnai polarisasi identitas, meningkatnya Islamofobia di sejumlah negara, serta berkembangnya politik eksklusif, pengalaman Inggris menawarkan pelajaran berharga. Pengakuan terhadap kontribusi Islam tidak berarti mengurangi kebesaran Barat, melainkan justru memperkaya pemahaman bahwa kemajuan manusia merupakan hasil kolaborasi panjang berbagai bangsa.

Masjid yang penuh oleh jamaah dari berbagai warna kulit pada siang Jumat itu bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol bahwa ilmu, iman, dan kemanusiaan mampu berjalan berdampingan. Dari Oxford hingga masjid-masjid di Inggris, sejarah mengajarkan bahwa peradaban tidak dibangun oleh satu bangsa atau satu agama saja. Ia tumbuh melalui pertukaran gagasan, penghormatan terhadap pengetahuan, serta kesediaan melihat perbedaan sebagai sumber kekuatan bersama.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags