Sebanyak 8.900 guru honorer madrasah di Kabupaten Malang masih menerima upah sangat minim, mulai dari Rp300 ribu per bulan. Mereka menjadi tulang punggung pendidikan bagi sekitar 144 ribu siswa yang tersebar di 1.115 lembaga madrasah, dari Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA).
Kondisi ini memicu keprihatinan karena kontras dengan peran vital mereka. Di tengah besarnya perhatian pemerintah terhadap program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih yang menelan anggaran ratusan triliun, kesejahteraan guru honorer madrasah justru terabaikan.
Sebagian besar guru honorer bekerja di madrasah swasta, sehingga nominal gaji mereka sangat bergantung pada kemampuan finansial yayasan pengelola. Mereka pun berharap pada insentif atau program sertifikasi dari pemerintah, namun kuotanya masih terbatas.
Perbandingan yang menohok datang dari sektor informal: beberapa guru mengaku penghasilan sebagai buruh linting rokok bisa mencapai Rp300 ribu per minggu. Artinya, dalam sebulan, buruh rokok bisa membawa pulang empat kali lipat upah guru honorer madrasah.
Data ini menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerja pendidikan yang berjuang di bawah standar, meski mereka memegang peran kunci dalam mencerdaskan generasi penerus.
Artikel Terkait
Guru Bukan Beban: Membangun Pendidikan dengan Memuliakan Pendidik
Kapolres Malang dan Bupati Bahas Pemberantasan Narkoba hingga Balap Liar
Prabowo Sindir Pihak yang Sebut Harga Beras Mahal: Suruh Tanam Padi Sendiri
Libur Guru Bukan Sekadar Istirahat, Tapi Kebutuhan untuk Menjaga Kualitas Pendidikan