Gaji Rp471 Ribu untuk Enam Jiwa, Guru Pesantren Ini Curhat di Media Sosial

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 05:40 WIB
Gaji Rp471 Ribu untuk Enam Jiwa, Guru Pesantren Ini Curhat di Media Sosial

Seorang guru pesantren mengungkapkan keprihatinannya setelah menerima gaji bulanan yang hanya Rp471.000 untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Dalam unggahan di media sosial, ia menuliskan kegelisahannya karena jumlah tersebut harus cukup untuk kebutuhan enam orang selama sebulan penuh.

Dalam tulisannya, pria yang akrab disapa Muhammad itu menghitung bahwa dengan gaji tersebut, setiap anggota keluarganya hanya mendapat jatah sekitar Rp2.616 per hari. Ia menyebut angka itu bahkan lebih rendah dari tarif parkir motor di minimarket. "Di negeri ini, dua ribu lima ratus rupiah bahkan tidak cukup untuk membayar parkir motor di depan minimarket. Namun di tempat ini, seorang pendidik dituntut memberi makan keluarganya dengan sisa-sisa remah anggaran yang dinilai lebih murah dari tarif parkir," tulisnya.

Ia juga menyoroti praktik manajemen di lingkungannya yang dinilai tidak sehat. Menurutnya, ada pejabat yang merangkap banyak jabatan, sementara guru lain yang berpotensi justru dibungkam. "Rangkap jabatan tanpa urat malu. Pucuk-pucuk jabatan diborong dan dipangku oleh satu orang yang sama. Bukan karena tidak ada staf lain yang mampu, melainkan karena srakah, haus kekuasaan, dan ketakutan kehilangan kendali," ungkapnya.

Ia menambahkan, potensi guru sering dimatikan melalui adu domba dan pembunuhan karakter. Ketika ada yang mencoba menuntut hak, pejabat pesantren sudah menyiapkan pencitraan negatif, seperti melabeli guru tersebut sebagai pemalas atau bermasalah. "Saat ada yang akan menuntut hak, pejabat pesantren itu pun sudah menyiapkan framing, guru pemalas, guru problematik, hingga semua takut untuk bersuara," tulisnya.

Di sisi lain, ia menyoroti adanya pegawai yang tidak produktif tetapi tetap menerima gaji besar karena kedekatan dengan pimpinan. "Ada banyak pengangguran terselubung tanpa beban kerja yang jelas, tanpa prestasi, bahkan lima tahun tak berproduksi tetapi tetap menerima amplop tebal hanya karena faktor kedekatan dan loyalitas buta," katanya.

Ia juga mengkritik penggunaan narasi keagamaan seperti ikhlas, sabar, dan pahala akhirat untuk membungkam kritik. Menurutnya, kalimat-kalimat itu kerap dipakai untuk menutupi manajemen yang buruk dan menekan pekerja agar tidak menuntut hak. "Semua hanya untuk membungkam kritik tanpa perlu memperbaiki masalah, melimpahkan kesalahan, dan menutup inkompetensi serta kerakusan. Penindasan hak dan ketidakadilan dibungkus rapi dengan narasi 'perjuangan' atau 'pengabdian suci'," tulisnya.

Di akhir unggahannya, ia mempertanyakan apakah ini tahun terakhirnya mengajar di pesantren. Ia pun memohon uluran tangan para dermawan, dengan menyebut skema mudharabah, syirkah, ijarah, atau samsarah, asalkan manusiawi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags