Jusuf Kalla: Sinergi Tiga Pilar Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

- Senin, 03 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Jusuf Kalla: Sinergi Tiga Pilar Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional bergantung pada sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Rakerkonas APINDO XXXV di Hotel Claro Makassar, Senin, 3 Agustus 2026. Menurutnya, ketiga unsur tersebut harus saling menguatkan agar Indonesia mampu bertahan di tengah tekanan perang, perubahan iklim, defisit anggaran, dan persaingan global yang semakin ketat.

JK, sapaan akrabnya, menilai negara yang ingin maju tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah atau kekuatan pasar semata. Ia menyebut pemerintahan yang baik, pengusaha yang produktif, dan masyarakat yang aktif sebagai tiga pilar utama penentu kekuatan ekonomi suatu bangsa.

"Suatu negara yang ingin maju selalu mempunyai tiga hal pokok yang menjadi penunjang ekonomi bangsa. Pertama pemerintah, kedua pengusaha, dan ketiga masyarakat," ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah bertugas membangun regulasi, infrastruktur, dan layanan publik yang efektif. Sementara itu, pengusaha menjadi penggerak utama ekonomi karena menciptakan lapangan kerja, membangun industri, dan memberikan kontribusi melalui pajak.

"Yang membangun ekonomi adalah para pengusaha, karena pengusaha membuka lapangan pekerjaan, menciptakan industri, mempekerjakan banyak orang, dan membayar pajak," katanya.

Menurut JK, kunci kekuatan ekonomi terletak pada keseimbangan antara peran negara dan aktivitas dunia usaha. Pengalaman berbagai negara menunjukkan tidak ada satu model tunggal yang otomatis berhasil jika tidak dibarengi harmoni antara kebijakan pemerintah dan produktivitas pelaku usaha.

"Yang penting adalah keseimbangan antara pemerintah dan dunia usaha," jelasnya.

Tekanan Global dan Risiko Domestik

Dalam pidatonya, JK menyebut ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari luar dan dalam negeri secara bersamaan. Dari sisi global, konflik di Timur Tengah dan Ukraina berdampak langsung pada kenaikan harga energi, ongkos produksi, serta tekanan terhadap ekspor dan persaingan dagang.

"Pengaruh ekonomi dunia tidak bisa kita hindari. Harga minyak naik, ongkos naik, ekspor bisa turun," ungkap JK.

Selain faktor global, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam mengelola utang dan defisit anggaran. Kebijakan fiskal yang tidak terjaga, menurut dia, bisa menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi nasional. JK juga menyoroti ancaman perubahan iklim, termasuk El Nino, yang berpotensi menekan hasil pertanian dan mengubah pola konsumsi masyarakat.

"Perubahan iklim akan menyebabkan hasil pertanian menurun. Akibatnya konsumsi masyarakat juga akan berubah," ujarnya.

Daerah Diminta Perkuat Ekspor dan Daya Beli

JK meminta pemerintah daerah aktif mendorong produktivitas sektor-sektor yang memiliki potensi ekspor. Ia menilai karakter ekonomi setiap daerah berbeda, sehingga kebijakan yang diambil harus menyesuaikan keunggulan masing-masing wilayah. Banyak daerah di luar Pulau Jawa masih punya peluang tumbuh lewat komoditas ekspor seperti kopi, kakao, dan hasil laut.

Karena itu, insentif dan kemudahan bagi komunitas ekspor perlu diperkuat agar pendapatan masyarakat ikut terdorong. "Berikan insentif dan kemudahan kepada komunitas yang melakukan ekspor, sehingga masyarakat mendapatkan pendapatan lebih besar," kata JK.

Ia juga mengingatkan agar belanja negara dijaga tetap efektif. Pengurangan anggaran yang terlalu besar, menurut dia, bisa memukul aktivitas ekonomi secara berantai, mulai dari pembayaran pegawai hingga berkurangnya pekerjaan di sektor kontraktor.

Dalam forum tersebut, JK turut menyinggung pentingnya hubungan harmonis antara pengusaha dan buruh. Kebijakan pengupahan harus tetap mempertimbangkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi agar daya beli pekerja tidak turun dan produktivitas tetap terjaga.

"Kalau inflasi tidak dimasukkan dalam perhitungan gaji buruh, maka pendapatan riil buruh akan turun. Kalau pendapatan riil turun, produktivitas juga akan menurun," jelasnya.

JK berharap APINDO terus memperkuat kerja sama antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah dalam menghadapi tekanan ekonomi. Menurut dia, siklus naik-turun ekonomi adalah hal yang selalu terjadi, sehingga yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan daya tahan dan kemauan untuk terus bergerak.

"Tidak ada ekonomi yang turun terus menerus atau naik terus menerus. Selalu ada siklus. Karena itu yang dibutuhkan adalah daya tahan," pungkas JK.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags