Mendikbud Kabinet Bayangan: MBG Tak Akan Tingkatkan SDM Tanpa Perbaikan Pendidikan

- Senin, 03 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Mendikbud Kabinet Bayangan: MBG Tak Akan Tingkatkan SDM Tanpa Perbaikan Pendidikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Bayangan, Iman Zanatul Haeri, meragukan klaim pemerintah bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, tidak ada bukti bahwa program tersebut mampu meningkatkan kualitas SDM secara langsung.

"Kita hampir menemukan banyak fakta tidak ada investasi yang bisa dikembangkan dari MBG dalam konteks sumber daya manusia. Karena, sebelum saya jadi Menteri Bayangan, saya memang bersaksi di MK dan saya bersama dengan Perhimpunan Pendidikan dan Guru bersama teman-teman organisasi profesi guru, kita menggugat MBG memang. Salah satu alasan dasarnya adalah soal SDM tadi," kata Iman kepada Terus Terang, Kamis (30/07/2026).

Iman mengaku telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait hal itu di Mahkamah Konstitusi, terutama ketika perwakilan Presiden Prabowo menghadirkan ahli gizi yang menyatakan anak-anak penerima MBG mengalami peningkatan efektivitas belajar, nutrisi otak, dan lain-lain.

"Pertanyaan kami sederhana, kalau memang seandainya MBG-nya benar-benar bergizi, bagaimana kita bisa melihat ada peningkatan pengetahuan, IQ, EQ, lalu peningkatan Human Capital Index, literasi mereka? Ternyata, untuk mencapai tujuan-tujuan MBG yang selama ini disebutkan tidak akan tercapai kalau pendidikan tidak dibenahi," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa setelah anak-anak bernutrisi, mereka harus belajar terlebih dahulu. Tidak pernah ada bukti bahwa mereka yang sudah mengonsumsi MBG langsung mengalami peningkatan efektivitas belajar. Sekadar makan tidak ada hubungannya dengan peningkatan kemampuan anak-anak. Untuk meningkatkan SDM, dibutuhkan tidak hanya perut yang kenyang, tetapi juga belajar yang berkualitas.

"Seperti pisau dengan besi yang bergizi, tapi kan harus diasah. Selama itu tidak diasah dengan pendidikan, maka tidak akan terjadi. Jadi, kami melihat argumentasi bahwa MBG ini meningkatkan SDM anak-anak kita, saya sangat sanksi sekali, kecuali SDM SPPG-nya ya, yang gajinya lebih besar daripada guru-guru honorer," kata Iman.

Iman juga menyoroti pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah yang masih belum dibenahi. Mulai dari cara pembagian makanan, rebutan proyek, cara investasi yang kasar, hingga kongkalikong antara pejabat dan aparat. Bahkan, ia menekankan bahwa bukti sudah banyak terpapar, sampai pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri telah menjadi tersangka korupsi besar proyek MBG. Sayangnya, kasus-kasus keracunan yang terjadi masih belum diusut tuntas.

"Satu keracunan saja terjadi itu sebetulnya menandakan ada masalah sangat sistemik terhadap BGN. Jadi, bukan soal dapurnya dikurangi, sistemnya bagaimana karena sejak awal kami dari P2G tidak melihat bahwa MBG yang sekarang terjadi akan berkontribusi terhadap meningkatnya potensi sumber daya manusia. Itu yang terjadi," ujar Iman.

Menurut Iman, kasus keracunan yang menimpa murid-murid dan guru-guru merupakan tindakan kriminal yang sampai hari ini tidak ada satu pun yang ditangkap. Hal itu ia lihat sebagai penanda bahwa MBG merupakan malapetaka bagi dunia pendidikan.

Iman pun sepakat dengan analogi bus yang belakangan ini kerap didengar, termasuk untuk MBG. Ketika kaca bus pecah, ban bolong, mesin hancur, tetapi bus masih dipaksa berjalan, yang akan terlihat pada akhirnya hanyalah kehancuran.

"Kecuali dihentikan, masukkan bengkel, dan ketahui semuanya. Sekarang kita cuma tahu supirnya doang yang korupsi, bagaimana yang di bawah? Apalagi, dia memalak anggaran pendidikan yang seharusnya untuk anak sekolah, perbaikan infrastruktur. Jadi, saya tidak melihat harapan MBG ini punya kontribusi terhadap pendidikan," kata Iman.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags