Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai USD140,81 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kenaikan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan ekspor non-migas yang tumbuh 4,90 persen menjadi USD134,58 miliar. Sementara itu, ekspor migas justru terkontraksi 10,19 persen menjadi USD6,23 miliar.
"Peningkatan ekspor non-migas tersebut terutama pada nikel dan barang dari padanya (HS75), lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15), dan juga bahan bakar mineral (HS27)," jelas Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Dari sisi sektor, industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 7,37 persen dan memberikan andil sebesar 6,18 persen terhadap total ekspor non-migas. Komoditas yang mengalami kenaikan signifikan antara lain produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, serta berbagai produk kimia dasar organik dan aluminium.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor non-migas ke China tercatat paling besar, mencapai USD34,56 miliar atau naik 18,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan pengiriman nikel, lemak dan minyak hewani/nabati, serta bahan bakar mineral.
Secara kumulatif, ekspor non-migas ke lima negara atau kawasan tujuan utama mengalami peningkatan, sementara ke negara atau kawasan lainnya justru menurun.
Kinerja Juni 2026
Pada bulan Juni 2026 saja, nilai ekspor mencapai USD25,46 miliar atau naik 8,84 persen dibandingkan Juni 2025. Ekspor non-migas menyumbang USD24,39 miliar dengan pertumbuhan 9,46 persen, sedangkan ekspor migas turun 4,25 persen menjadi USD1,07 miliar.
Ateng menjelaskan, kenaikan ekspor Juni secara tahunan terutama didorong oleh komoditas bahan bakar mineral (HS27) yang nilainya melonjak 49,67 persen dengan volume naik 15,34 persen. Nikel dan barang daripadanya (HS75) juga mencatat kenaikan nilai 69,30 persen, meskipun volumenya turun 12,14 persen. Sementara itu, lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) naik 10,45 persen secara nilai, tetapi volumenya menurun 7,09 persen.
Artikel Terkait
Neraca Perdagangan Juni Defisit USD 450 Juta, Impor Migas Melonjak
Inflasi Tahunan Juli 2026 Tembus 2,88 Persen, BPS Sebut Makanan dan Transportasi Jadi Pendorong Utama
BPS Catat Deflasi 0,14 Persen pada Juli 2026, Bawang Merah Jadi Pemicu Utama
BPS Catat Deflasi 0,14 Persen pada Juli 2026, Terendah di Papua Pegunungan