Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengaku sesekali perlu bersikap sombong, tetapi hanya untuk menghadapi orang yang sombong. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan terusterang.id yang ditayangkan di kanal YouTube pribadinya, Sabtu (01/08/2026).
"Ada juga satu langkah di saat-saat tertentu di mana kita itu harus menyombongkan diri ketika orang sombong kepada kita. Barang siapa yang rendah hati kepada orang yang rendah hati itu sedekah, tapi sebaliknya kalau kau sombong kepada orang yang sangat sombong kamu dapat pahala sedekah," ujar Mahfud.
Ia lantas menceritakan pengalamannya saat menghadiri Kongres Pancasila di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketika itu, seorang peserta yang mengaku dari Lemhannas mengejek dirinya yang kerap menyuarakan penegakan hukum, tetapi dianggap tidak mampu mengubah keadaan meski pernah menjabat di pemerintahan.
"Pak Mahmud, Anda ini teriak-teriak penegakan hukum, Anda sudah di pemerintah juga tidak bisa mengubah negara, apa yang Anda lakukan? Saya bilang, Anda dari Lemhannas ya, kamu lihat itu MK ketika saya pimpin hebat tidak? Waktu saya Menkopolhukam ada tidak menteri yang berani melawan DPR? Berani bongkar kasus? Berani menarik BLBI? Tidak ada, Pak. Ya, saya katakan itu sombong terhadap orang sombong," tuturnya.
Video pernyataan Mahfud itu belakangan banyak dibagikan warganet untuk merespons pihak-pihak yang mencemooh karena menyuarakan aspirasi rakyat. Padahal, menurut Mahfud, tokoh sebesar Bung Karno pun tidak mampu mengubah negara meski telah memimpin. Namun, Bung Karno tetap dikenang sebagai orang baik berkat jasa-jasanya.
Mahfud juga mencontohkan Marie Muhammad yang dijuluki "Mr. Clean", tetapi tetap tidak bisa mencegah korupsi di Kementerian Keuangan. "Jadi, integritas pribadi, yang kita bicarakan itu kesadaran kolektif agar setiap jabatan itu punya integritas pribadi. Anda tahu Bung Hatta, itu orang yang paling jujur, gila pada koperasi agar Indonesia hidup dari koperasi, tapi sampai sekarang konsep koperasi tidak jalan. Apa kurangnya Bung Hatta? Apa kurangnya Malik Fadjar? Jadi, kehidupan kita tetap saja, tapi suatu saat berhadapan dengan ini keluarkan," katanya.
Meski demikian, Mahfud tidak menampik bahwa karakter orang Madura yang mengalir dalam dirinya turut memengaruhi cara ia bersikap. Apalagi, sebagai pembelajar hukum, ia harus menghadirkan kejelasan, bukan kebingungan.
Baru-baru ini, pernyataan Mahfud di Kongres Umat Islam yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi headline Kompas dengan judul "Mengingatkan bukan Perlawanan". Ia menilai, pihak-pihak yang mengingatkan pemerintah, meski sering dikategorikan sebagai pengkritik, sangat penting keberadaannya. Sebab, kekuasaan cenderung korup, dan orang baik pun cenderung dikelilingi lingkungan yang korup.
Mahfud mengingatkan, hal ini sudah terjadi di era akhir kekuasaan Pak Harto. Saat ingin beristirahat, ia malah dicegah oleh lingkungannya. Lingkungan itulah yang membuat Pak Harto lama-lama koruptif. Karena itu, setiap penguasa harus diingatkan.
"Oleh sebab itu, harus selalu diingatkan, itulah pentingnya kritik. Maka, ketika saya bicara kemarin yang dimuat di Kompas menjadi berita agak besar saya bilang di MUI, tugas civil society itu mengingatkan pemerintah, bukan hanya memuji. Setelah menyiapkan kader yang bisa masuk ke pemerintah, sesudah temannya masuk pemerintah Anda civil society-nya harus tetap kritis. Kalau di MUI itu ada dalil, sebaik-baik perjuangan itu mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang salah," pungkasnya.
Artikel Terkait
Feri Amsari: Mahfud MD Guru yang Tak Pernah Marah saat Dikritik
DPR Hormati Usulan MUI soal Istilah LGSP, Singgih Ingatkan Fokus pada Perlindungan Anak
MUI Ganti Istilah LGBT dengan LGSP, Siapkan RUU Anti-LGSP
Mahfud MD: Saya Babat Permainan Kriminalisasi Saat Jadi Ketua MK