Analisis Ungkap AS Jatuhkan Bom Hampir 1 Ton di Rumah Warga Iran, Satu Keluarga Tewas

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:40 WIB
Analisis Ungkap AS Jatuhkan Bom Hampir 1 Ton di Rumah Warga Iran, Satu Keluarga Tewas

Sebuah analisis terhadap foto, video, dan citra satelit mengungkapkan bahwa militer Amerika Serikat menggunakan bom berbobot 2.000 pon atau hampir 1 ton dalam serangan terhadap sebuah rumah di Pulau Qeshm, Iran, pada Kamis (30/7/2026). Serangan tersebut menewaskan satu keluarga yang terdiri dari empat orang.

Para pakar yang melakukan analisis menyimpulkan bahwa bom yang digunakan adalah Mark-84, salah satu bom konvensional terbesar yang dimiliki militer AS. Kesimpulan ini didasarkan pada ukuran kawah selebar 9 meter dan pecahan amunisi yang ditemukan di lokasi kejadian.

Pejabat Iran mengonfirmasi bahwa korban tewas adalah pasangan suami-istri beserta dua putra mereka yang masih berusia 2 tahun. Dua anak lainnya berhasil diselamatkan dari reruntuhan dalam keadaan hidup.

Gambar yang diperoleh dari lokasi serangan sesuai dengan waktu dan tempat operasi AS. Namun, temuan ini justru memunculkan pertanyaan besar mengenai target yang sebenarnya dan alasan penggunaan amunisi sebesar itu untuk menyerang sasaran sipil. Lokasi serangan berada di lingkungan padat penduduk Kota Qeshm, yang terletak di pesisir Selat Hormuz.

Serangan ini diduga merupakan bagian dari rentetan aksi balasan militer AS atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania sebelumnya. Meski demikian, investigasi yang dilakukan The New York Times tidak menemukan indikasi adanya markas militer di dekat rumah keluarga tersebut, atau jatuhnya korban dari kalangan militer Iran akibat serangan itu.

Rekaman dari lokasi menunjukkan puing-puing dan kendaraan rusak dalam radius lebih dari 60 meter dari titik jatuhnya bom. Sementara itu, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan sedang menyelidiki laporan jatuhnya korban sipil Iran, namun enggan memberikan tanggapan mengenai target yang dimaksud, jenis amunisi yang digunakan, atau langkah pencegahan yang telah diambil untuk melindungi warga sipil.

"Kami mengetahui laporan tersebut dan sedang menyelidikinya," ujar Juru Bicara Centcom, Tim Hawkins, seraya menegaskan bahwa militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags