Histeria film horor Hollywood kembali mengguncang khalayak pada pertengahan 2026. Setelah sukses dengan film indie viralnya, Milk & Serial, pada 2024, sutradara Barker kini melangkah ke panggung besar bersama Focus Features lewat Obsession, sebuah horor psikologis yang segar sekaligus mencekam.
Namun, di balik kemasan horornya, film ini menyimpan kritik sosial yang dalam. Obsession tidak sekadar menakut-nakuti penonton, tetapi juga menyoroti ketidakadilan yang dialami perempuan dalam mendapatkan ruang aman, serta gelapnya misogini yang kerap menyamar sebagai cinta.
Kisah berpusat pada Bear, diperankan oleh Michael Johnston, yang hadir sebagai tokoh utama dengan label 'nice guy'. Ia tampak ideal di mata banyak perempuan, tetapi sebenarnya menyimpan dendam patriarki yang mendalam karena cintanya ditolak. Bear mengalami fragile masculinity ketakutan untuk mengungkapkan perasaan kepada temannya sendiri. Ego yang tidak terpenuhi membuatnya kehilangan kendali, hingga ia menyeret Nikki (Inde Navarrette) ke dalam obsesi yang merusak. Dengan menggunakan 'One Wish Willow', Bear berusaha membuat Nikki mencintainya lebih dari siapa pun.
Namun, alih-alih mendapatkan cinta tulus, keinginan egois itu justru mengubah Nikki menjadi sosok yang terdistorsi dan terobsesi secara mengerikan. Keputusan Bear tidak hanya merenggut otonomi Nikki, tetapi juga menyeret hubungan mereka dan teman-teman di sekitarnya ke dalam bencana psikologis yang mematikan.
Salah satu adegan krusial terjadi ketika Bear mematahkan One Wish Willow, padahal Nikki sebelumnya telah membuka ruang untuk berkomunikasi secara jujur. Ketegangan semakin tidak terkendali saat obsesi Nikki memuncak, hingga Bear berusaha menghubungi layanan bantuan, meski akhirnya gagal.
Alih-alih mencari solusi, ego Bear justru semakin mendominasi. Ketika kesadaran Nikki yang terperangkap menjerit memohon pembebasan di latar belakang, Bear dengan egonya yang terluka justru membela diri, 'Apa salahnya sih cuma ingin bersamaku?!'. Ini menandakan bahwa manipulasi kontrol atas tubuh perempuan kerap dibungkus dengan kata 'sayang'.
Obsession tidak hanya mengajak penonton pada adegan gaib yang mencekam, tetapi juga memaknai kehidupan sosial dan dampak dari egoisme serta entitlement pria dalam sebuah hubungan. Lewat nasib tragis Nikki dan kepalsuan topeng 'pria baik' milik Bear, film ini memberikan refleksi dan peringatan keras bahwa batasan, kendali, dan consent merupakan hak utama dalam diri perempuan.
Artikel Terkait
Cinta Laura Ungkap Persahabatan dengan Michael Johnston Sejak 2017, Bangga Lihat Sahabat Bersinar Lewat Obsession
Bupati Purwakarta Disomasi Gegara Lagu Kontroversial Berbahasa Sunda