Akar Patriarki dan Dampaknya: Mengapa Misogini Masih Mengakar di Masyarakat

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Akar Patriarki dan Dampaknya: Mengapa Misogini Masih Mengakar di Masyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, masih banyak pandangan yang membedakan peran perempuan dan laki-laki berdasarkan jenis kelamin. Salah satu akar perbedaan ini adalah budaya patriarki, sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan. Dari sistem inilah lahir misogini, sikap merendahkan, membenci, atau mendiskriminasi perempuan dan feminitas, baik secara terang-terangan maupun halus.

Misogini tidak selalu berwujud kekerasan atau ujaran kebencian. Ia bisa menjelma dalam stereotip, kebiasaan, dan norma yang sudah lama dianggap wajar. UN Women mencatat bahwa norma sosial tentang gender memainkan peran besar dalam membentuk cara masyarakat memperlakukan perempuan dan laki-laki.

Diwariskan Sejak Dini

Patriarki tumbuh melalui proses panjang yang diwariskan lintas generasi. Sejak kecil, anak-anak mulai diperkenalkan pada pembagian peran gender melalui keluarga, sekolah, lingkungan, dan media. Anak perempuan kerap diajarkan untuk lembut, penurut, pandai memasak, dan bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Sementara anak laki-laki didorong menjadi kuat, berani, mandiri, dan pemimpin keluarga.

Kebiasaan ini membentuk anggapan bahwa ada pekerjaan atau sifat tertentu yang hanya cocok untuk salah satu gender. Stereotip itu lalu terus berkembang dan dianggap normal, padahal membatasi potensi individu.

Dampak Nyata dalam Keseharian

Stereotip dari budaya patriarki memunculkan berbagai bentuk misogini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, perempuan sering dianggap bertanggung jawab utama mengurus anak dan rumah tangga, meski mereka juga bekerja di luar rumah. Masih ada anggapan bahwa perempuan kurang mampu memimpin, kurang cocok di bidang teknik, atau kemampuan menyetirnya lebih buruk dari laki-laki. Padahal, kemampuan seseorang ditentukan oleh pengalaman, pendidikan, kesempatan, dan keterampilan, bukan jenis kelamin. Ketika stereotip ini terus dipercaya, perempuan berisiko mengalami diskriminasi di pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Laki-laki Juga Terjebak

Budaya patriarki tidak hanya membebani perempuan, tetapi juga membentuk harapan masyarakat terhadap laki-laki. Mereka diharapkan maskulin: kuat, tegas, mandiri, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Sifat yang dianggap feminin sering dipandang kurang pantas bagi laki-laki. Akibatnya, laki-laki yang berpenampilan atau berperilaku feminin lebih sering mendapat stigma, ejekan, atau diskriminasi dibandingkan perempuan yang maskulin. Memang, bukan berarti perempuan maskulin selalu diterima atau laki-laki feminin selalu ditolak, tetapi ada kecenderungan yang dipengaruhi patriarki.

OECD menyebut bahwa norma maskulinitas tradisional menempatkan karakteristik maskulin lebih tinggi daripada feminin. Laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas lebih rentan mengalami penolakan sosial. Ini menunjukkan bahwa patriarki membatasi kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan diri tanpa dibatasi stereotip gender.

Perempuan Juga Bisa Melanggengkan

Patriarki bahkan bisa membuat perempuan ikut melanggengkan misogini. Dalam keseharian, perempuan kadang memberikan penilaian negatif kepada sesama perempuan yang dianggap tidak sesuai peran gender. Contohnya, perempuan yang memilih berkarier dianggap mengabaikan keluarga, yang tidak menikah pada usia tertentu dipandang gagal, atau yang tidak bisa memasak dianggap kurang layak menjadi istri.

Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa norma patriarki tertanam begitu kuat sehingga diterima dan diteruskan oleh anggota masyarakat, termasuk perempuan sendiri. Misogini tidak hanya soal hubungan laki-laki dan perempuan, melainkan juga sistem sosial yang membentuk cara berpikir kita.

Menuju Lingkungan yang Lebih Adil

Misogini adalah salah satu dampak dari norma patriarki yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Budaya ini tidak hanya memengaruhi cara pandang terhadap perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki melalui tuntutan maskulinitas. Stereotip gender terus diwariskan dan sering dianggap wajar, padahal bisa menimbulkan diskriminasi dan membatasi kesempatan individu untuk berkembang sesuai kemampuan dan minatnya.

Karena itu, perlu kesadaran bersama bahwa pembagian peran berdasarkan gender bukanlah ketentuan mutlak. Melalui pendidikan, lingkungan keluarga yang mendukung, dan sikap saling menghormati, kita bisa mengurangi stereotip dan menciptakan lingkungan yang lebih adil, setara, dan menghargai setiap individu tanpa memandang gender.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags