Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito menegaskan bahwa akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kebenaran di tengah keresahan masyarakat. Menurutnya, masyarakat selalu menaruh ekspektasi tinggi pada kampus, sehingga intelektualitas tidak boleh dikorbankan karena keterbatasan. Salah satu hal yang paling mendesak untuk diperjuangkan adalah kebebasan akademik dan berpikir kritis.
"Kalau orang berpikir kritis dibungkam, negara ini akan defisit ke depan. Secara intelektual, kalau defisit bangsa ini bisa runtuh. Bisa bayangkan, kalau mahasiswa-mahasiswa tidak kritis melihat realitas," kata Arie dalam acara Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (25/07/2026).
Arie menyoroti ketergantungan Indonesia pada asing sebagai contoh nyata. Ia menilai kemandirian bangsa tidak terbangun karena pengetahuan yang diproduksi masih bersifat kolonialis. "Kita tidak melakukan dekolonisasi, cenderung mempraktikkan apa yang kita dapat," ujarnya. Lebih lanjut, ia menyayangkan rendahnya rekognisi terhadap pengetahuan lokal di tingkat masyarakat. Tanpa perubahan, menurut Arie, cita-cita Indonesia Emas 2045 sulit tercapai.
"Maka, saya katakan bahwa kalau mahasiswa yang menyuarakan dengan berpikir kritis, kemudian direpresi, diteror, ini menghancurkan masa depan bangsa, masa depan bangsa dipertaruhkan. Kalau anak-anak itu ditakut-takuti, Anda bisa bayangkan, mereka tidak akan punya kreativitas dan kecerdasan itu. Percuma dikasih fasilitasi teknologi dan sebagainya kalau pada saat yang sama dia dihambat nalar dia berpikir," tegas Arie.
Ia mencontohkan negara-negara Eropa dan Amerika yang mengembangkan idealisme sekecil apa pun di kampus. Tanpa itu, laboratorium dan riset menjadi sia-sia jika kritik tidak bisa disuarakan. Arie menekankan pentingnya intelektual publik yang mampu merespons kepentingan rakyat. Dalam falsafah Jawa, ia mengutip istilah 'ngelmu iku kalakone kanthi laku', yang berarti ilmu hanya bisa dikuasai melalui pengamalan. "Dia mampu menjalani dan dia dapat ilmu," katanya.
Arie juga mengingatkan pesan almarhum Arief Budiman tentang kesadaran berpikir: orang kaya yang membela orang miskin itu bagus, tapi orang miskin yang punya kesadaran membela diri jauh lebih bagus. Artinya, yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan, melainkan kesadaran atas kondisi nyata yang kemudian melahirkan keinginan mengubah keadaan. "Kampus harus punya tanggung jawab soal itu. Saya ingat juga istilahnya dari Anhar Gonggong, dia cerita soal bukan hanya mencetak sebagai seorang intelektual, tapi intelektual yang tercerahkan, tercerahkan itu values yang kita jadikan pertaruhan," pungkas Arie.
Artikel Terkait
Lukas Luwarso: Rektor UGM dan Kapolri Kunci Selesaikan Polemik Ijazah Jokowi
Kubu Roy Suryo Kecam Pertemuan Jokowi dengan Saksi di Tengah Kasus Ijazah
Studi UGM: Biaya Satu Episode DBD Capai Rp5,6 Juta bagi Pasien Tanpa BPJS
Dokter Tifa Ungkap Alasan Geledah Ijazah Jokowi: Temukan Kejanggalan Jurusan Teknologi Kayu