Kebakaran Lahan Gambut di Palangka Raya Capai 6 Hektare, Angin Jadi Kendala Pemadaman

- Selasa, 28 Juli 2026 | 02:00 WIB
Kebakaran Lahan Gambut di Palangka Raya Capai 6 Hektare, Angin Jadi Kendala Pemadaman

Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dari udara, terlihat kepulan asap tebal membubung tinggi dari lahan gambut yang terbakar di Jalan Hiu Putih Lanjutan, Kecamatan Jekan Raya, Senin (27/7/2026). Kobaran api telah menghanguskan sedikitnya enam hektare lahan.

Titik-titik api menyebar di sejumlah bagian lahan gambut yang mengering akibat musim kemarau. Asap pekat menyelimuti kawasan kebakaran dan tampak dari kejauhan. Tim Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah langsung dikerahkan untuk memadamkan api.

Petugas berupaya mencegah kebakaran meluas dengan memanfaatkan sumber air dari parit di sekitar lokasi. Namun, upaya pemadaman tidak berjalan mudah. Tiupan angin kencang membuat api cepat berpindah ke titik lain sehingga petugas harus bekerja ekstra hingga sore hari untuk mengendalikan kobaran api.

Heri, petugas Dalkarhutla Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, mengatakan kondisi cuaca menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman. "Sumber air aman, kendalanya cuma angin," ujarnya di lokasi.

Meski menghadapi kendala di lapangan, tim gabungan terus berupaya melokalisasi titik api agar kebakaran tidak merambat ke kawasan yang lebih luas. Kebakaran ini menambah daftar kejadian karhutla di Kota Palangka Raya selama musim kemarau.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, sejak status siaga tanggap darurat karhutla diberlakukan pada 1 Juni hingga 26 Juli 2026, telah terjadi 109 kasus kebakaran hutan dan lahan dengan total luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 54 hektare.

Pemerintah mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah kondisi cuaca yang kering dan berangin.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags