Konflik dalam hubungan atau pertemanan kerap berakhir dengan kekerasan fisik. Kasus pengeroyokan yang melibatkan TikToker Mondy Tatto di Bekasi baru-baru ini menjadi contoh nyata. Polisi menduga peristiwa itu dipicu oleh cinta segitiga dan pengaruh alkohol. Setiap kasus memang memiliki latar belakang berbeda, namun kejadian ini mengingatkan bahwa konflik yang tidak diselesaikan sejak awal bisa berujung fatal.
Penelitian Permana dan Azca (2023) menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan yang tidak sehat dapat membuat seseorang sulit mengendalikan emosi. Rasa cemburu dan kesal yang dipendam lama-kelamaan bisa memicu amarah besar yang merugikan orang lain. Berikut beberapa alasan psikologis mengapa pertengkaran dalam lingkaran pertemanan bisa memicu pengeroyokan.
Pengaruh Minuman Keras
Minuman keras menjadi salah satu pemicu utama perubahan masalah kecil menjadi kekerasan fisik. Penelitian Ciorba dan Rada (2022) menemukan bahwa alkohol secara psikologis merusak fungsi kontrol diri. Ketika kendali emosi hilang, kesadaran menurun, sehingga seseorang lebih mudah menunjukkan perilaku kasar saat menghadapi masalah. Akibatnya, masalah sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik malah ditanggapi dengan amarah berlebihan hingga nekat melakukan pengeroyokan.
Rasa Cemburu Akibat Masalah Percintaan
Cinta segitiga di lingkungan pertemanan sering membuat suasana tidak nyaman. Rasa cemburu atau sakit hati yang dibiarkan tanpa dibicarakan lama-kelamaan akan membesar dan merusak pertemanan. Penelitian Maghfiroh (2024) tentang kecemburuan sosial menunjukkan bahwa emosi yang tidak dikelola dengan baik bisa langsung membuat seseorang kehilangan kesabaran dan main tangan. Hal ini menjelaskan mengapa masalah percintaan yang menimbulkan cemburu bisa berujung pada aksi kriminal seperti kasus Mondy Tatto.
Tekanan Lingkungan Pertemanan yang Buruk
Kebiasaan berada di lingkaran pertemanan yang biasa menggunakan kekerasan membuat seseorang tidak merasa bersalah saat berbuat kasar. Tekanan lingkungan ini membuat orang yang tadinya biasa saja ikut-ikutan nekat saat kelompoknya terlibat konflik. Studi Hidayat (2024) menyebutkan bahwa lingkungan pertemanan yang tidak sehat mendorong kekerasan bersama-sama, sehingga mereka tega melakukan pengeroyokan tanpa memikirkan akibat.
Pentingnya Menjaga Jarak dari Pertemanan Toksik
Berani menjauh dari lingkaran pertemanan yang tidak sehat menjadi kunci agar pertengkaran tidak berujung kekerasan. Ketika ada teman yang mulai menunjukkan perubahan sikap, seperti mudah main tangan, suka memprovokasi, atau hobi minum alkohol, sebaiknya mulai jaga jarak. Teman yang baik juga harus berani menegur jika ada kesalahpahaman akibat masalah percintaan. Sikap tegas menolak kekerasan bisa mencegah terjadinya pengeroyokan. Lingkungan pertemanan yang sehat menjaga kita agar tidak terjebak dalam masalah yang merugikan diri sendiri.
Pada akhirnya, tidak perlu menjadi teman yang sempurna, tetapi cukup tunjukkan bahwa kita bisa menjadi lingkungan pergaulan yang aman tanpa saling menjatuhkan. Menjaga komunikasi yang baik sejak awal menjadi kunci penting, agar seberat apa pun masalah cinta yang terjadi, kita tetap memiliki tempat berkumpul yang aman tanpa kekerasan fisik.
Artikel Terkait
Polres Tabanan Ekshumasi dan Autopsi Jenazah Korban Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam
Pengeroyokan TNI Dipicu Perebutan Antrean Sate Taichan, 7 Tersangka Ditangkap
Tiga Hari Tak Pulang, KD Tewas Dikeroyok Usai Kepergok Curi Ayam di Tabanan
Pria di Morowali Tewas Dikeroyok Massa Usai Dituduh Curi Motor